Bambu Runcing, Senjata Umat Islam Melawan Penjajah

Parakan menjadi daerah terkenal karena sosok Kiai Subeki, sang legenda bambu runcing. Umat Islam berbondong-bondong dengan membawa bambu runcing menuju kediaman seorang kiai kharismatik dari Parakan, Temanggung tersebut.

 

Syahdan, Gus Sholahuddin meriwayatkan dari ayahnya Kiai Mujib Ridlwan dan kakeknya Kiai Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU). Saat Kiai Wahab, Kiai Ridlwan dan Kiai Asnawi sowan ke Syekh KH Hasyim Asy’ari agar mengeluarkan Fatwa Jihad, Kiai Hasyim bertanya, “Kalau Fatwa Jihad sudah dikeluarkan, kita mau berperang dengan apa? Senjata tidak ada, peluru tidak punya, prajurit sudah banyak yang gugur. Perang bagaimana?”

Semua kiai terdiam sejenak. Kiai Wahab menjawab, “Kita punya wirid dan hizib, Kiai.” Kemudian Kiai Hasyim bertanya, “Apa sudah waktunya kita mengeluarkan itu?” Kiai Wahab memantapkan, “Kalau bukan sekarang, kapan lagi Kiai?”

Kiai Hasyim pun menyuruh para kiai tersebut untuk sowan ke Kiai Subeki Parakan Temanggung. Setelah para kiai bertanya tentang senjata untuk perang, Kiai Subeki menjawab, “Senjata apa yang saya punya? Yang ada di belakang rumah saya ini berupa barongan bambu.”

Akhirnya beliau yang memberi ijazah “senjata” bambu runcing. Setelah Fatwa Jihad dikeluarkan, maka ribuan santri berduyun-duyun berangkat ke Surabaya untuk berperang. Mereka banyak yang bersenjatakan bambu runcing yang telah didoakan oleh Kiai Subeki.

Sebelum perang 10 November 1945, tahun 1941 Kiai Subeki mengumpulkan para santri dan pemuda desa untuk mengadakan persiapan perang. Hadir dalam pertemuan itu Kiai Noer (putra Kiai Subeki) dan Lurah Masúd (adik Kiai Subeki). Dalam pertemuan tersebut dibentuk pasukan Hizbullah-Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Subeki.

Pasukan yang baru dibentuk ini mengalami kendala dalam hal persenjataan. Yang ada baru pedang, golok, klewang, keris, tombak, dan sebagainya. Itu pun terbatas jumlahnya. Karena itu, Kiai Noer mengusulkan agar pasukan dipersenjatai dengan cucukan atau bambu runcing. Dengan alasan, bambu mudah diperoleh dan mudah membuatnya.

Usulan itu diterima secara mufakat. Kiai Subeki pun mengumpulkan pasukan lalu memanjatkan doa agar Allah memberikan kekuatan istimewa kepada pasukan bambu runcing ini.

Peristiwa ini menimbulkan semangat di kalangan pemuda saat itu dan yakin jika senjata baru ini memiliki keistimewaan yang dahsyat.

Setahun setelah firasat Kiai Subeki, Jepang datang dan pecah perang besar antara Belanda dan Jepang. Pasukan Jepang pernah berusaha menguasai Parakan, tetapi dihadang oleh pasukan bambu runcing Kiai Subeki. Akhirnya, Jepang mengurungkan niatnya ke Parakan dan meneruskan pergerakan ke Wonosobo.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Magelang masih diduduki Jepang. Pasukan Hizbullah dari daerah Parakan dan daerah Kedu bersatu untuk mengusir Jepang dari Magelang.

Dalam pertempuran tersebut Jepang terlihat ketakutan menghadapi pasukan bambu runcing yang dipimpin Kiai Subeki. Inilah yang menaikkan pamor senjata bambu runcing.

Sejak itu, seiring naiknya pamor bambu runcing, sosok Kiai Subeki pun menjadi terkenal. Apalagi pasukannya juga berhasil memukul mundur pasukan Gurkha dari Magelang hingga ke Semarang. Para pejuang kemerdekaan pun berduyun-duyun datang ke Parakan, lengkap dengan bambu runcingnya, untuk menemui Kiai Subeki dan meminta doanya. [Fathurroji/berbagai sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *