Gowa-Tallo, Jejak Islam di Sulawesi Selatan

Sebelum Islam datang, Kerajaan Gowa telah berdiri dengan Tomanurung sebagai raja pertama. Menurut Prof Ahmad M Sewang dalam Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI Sampai Abad XVII, Kerajaan Gowa diperkirakan berdiri pada abad ke-14.

 

Sebelum Kerajaan Gowa berdiri, kawasan sekitar sudah dikenal dengan nama Makassar dan masyarakatnya disebut dengan suku Makassar. Gowa dan Tallo pra-Islam, pada masa pemerintahan Gowa IV Tonatangka Lopi, membagi wilayah kerajaan menjadi dua bagian untuk dua putranya, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero. Hal ini dikarenakan kedua putranya sama-sama ingin berkuasa.

Batara Gowa melanjutkan kekuasaan sang ayah yang meninggal dunia dengan memimpin Kerajaan Gowa sebagai Raja Gowa VII. Sedangkan adiknya, Karaeng Loe ri Sero mendirikan kerajaan baru bernama Tallo.

Dalam perjalanannya, dua kerajaan bersaudara ini dilanda peperangan bertahun-tahun. Hingga kemudian pada masa Gowa dipimpin Raja Gowa X, Kerajaan Tallo mengalami kekalahan.

Kedua kerajaan kembar itu pun menjadi satu kerajaan dengan kesepakatan Rua Karaeng Se’re Ata, dua raja, seorang hamba.

Sejak keduanya menyepakati perjanjian, siapa pun yang menjabat sebagai Raja Tallo, menjabat sebagai mangkubumi Kerajaan Gowa. Para sejarawan kemudian menamakan kedua kerajaan Gowa dan Tallo dengan Kerajaan Makassar. Kerajaan Gowa-Tallo tercatat mempunyai peran cukup penting bagi sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.

Gowa dan Tallo kaya akan beras dan kapur barus. Negeri ini aktif dalam perdagangan internasional dan mengimpor barang dari luar negeri, seperti pakaian dari Bengal, Cambay dan Keling, serta keramik-keramik dari Tiongkok.

Selain itu, kerajaan ini telah aktif berdagang dengan negeri-negeri di Kepulauan Malaka.

Pada tahun 1605 M, Kerajaan Gowa dan Tallo berikrar sebagai kerajaan Islam. Ini menyusul keberhasilan dakwah Dato’ri Bandang dan Dato’ Sulaiman. Sejak itu, Islam menjadi alasan yang kuat untuk meluaskan kekuasaan dengan tujuan islamisasi kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan.

Sejak Islam menjadi agama resmi di Kerajaan Gowa-Tallo, Raja Gowa berikutnya yaitu Sultan Alauddin semakin kuat kedudukannya karena diakui sebagai Amirul Mukminin atau kepala agama Islam.

Raja ini juga dinilai aktif dalam menyebarkan agama Islam. Kerajaan ini pun eksis sebagai kerajaan Islam kuat di Sulawesi Selatan.

Ada beberapa peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang masih tersisa: Pertama, Istana Balla Lompoa yang didirikan Raja Gowa ke-5 I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonionompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenangari Sungguminasa. Saat ini istana difungsikan sebagai Museum Balla Lompoa untuk menyimpan bendabenda kerajaan.

Kedua, Masjid Katangka, Masjid Kerajaan Gowa yang dibangun pada abad ke-18. Masjid berada di sebelah utara Kompleks Makam Sultan Hasanuddin yang diyakini sebagai tempat berdirinya Istana Tamalate, istana Raja Gowa ketika itu.

Meski sederhana, masjid ini diyakini sebagai masjid tertua di Sulawesi Selatan.

Ketiga, Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang, benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang terletak di pantai Kota Makassar. Benteng ini dibangun Raja Gowa kesembilan Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna pada tahun 1545.

Pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin, konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas dari Pegunungan Karst, Maros. [Fathurroji]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *