Berbeda Mazhab, Bersatu Dalam Politik

Jakarta, Gontornews — Pengajian Politik Islam (PPI) hadir di Masjid Al Barkah As Syafiiyah, Tebet Jakarta Selatan, Ahad (26/11/2017). Masjid tersebut dipimpin salah satu pendiri PPI yaitu KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i.

Pengajian yang bertemakan “Berbeda dalam Mazhab, Bersatu dalam Politik,” itu dihadiri pendiri sekaligus pengasuh PPI yaitu KH Cholil Ridwan, ia ditemani dua narasumber yaitu Dr Zain An-Najah (Direktur Pesantren Tinggi Al-Islam), KH Misbahul Anam (DPP FPI). Hadir pula dalam kesempatan itu KH Muhammad al Khaththath (Sekjen FUI), Aru Syeif Ashadullah (Suara Islam), Ustaz Fikri Bareno (Al Ittihadiyah), Ustaz Zulfi Syukur (DDII) dan lainnya.

Dalam pengantarnya, KH Cholil Ridwan mengatakan, umat Islam harus paham politik Islam, yaitu politik yang sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad SAW, bukan politik praktis yang menghalalkan segala cara.

“Politik bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan sunnah Rasul karena selain menjadi Rasul, Nabi Muhammad juga sebagai kepala negara, sebagai hakim agung bahkan sebagai panglima perang,” kata Kyai Cholil.

“Nabi itu hanya lima waktu dan sebentar waktunya saat menjadi imam shalat, tapi diluar itu waktunya dihabiskan sebagai imam daulah, menjadi kepala negara,” tambahnya.

Menurutnya, dengan kekuasaan, banyak ajaran Islam bisa ditegakkan secara lebih mudah. Dan umat Islam akan lebih dihormati dan disegani. Namun jika Islam tidak berkuasa, yang terjadi seperti sekarang ini.

“Ulama dikriminalisasi, Islam dinista. Ingat kejadian Tolikara, umat Islam lagi shalat idul Fitri dibubarin, masjidnya dibakar. Itu bukti nyata bahwa yang intoleran itu mereka. Bayangkan, umat Islam mayoritas tapi ibadahnya dibubarin, artinya kalau kita diam saja ya akan seperti itu terus kondisinya,” ungkap Kyai Cholil.

Sementara itu, Dr Zain Annajah membahas kitab Siyasah Syar’iyah (politik Islam). Menurutnya banyak ayat Alquran dan hadits yang berkaitan dengan politik.

“Jadi umat Islam harus melek politik, tapi politik yang Islami, politik yang jujur dan santun,” ujarnya.

Sedangkan KH Misbahul Anam, ia menerangkan bahwa ulama dan umat Islam punya peranan sangat besar dalam membangun negeri ini. Bahkan Pancasila lahir hasil ijtihad para ulama dan negarawan.

“Negeri ini merdeka berkat rahmat Allah, karena itu jangan benturkan Islam dengan Pancasila,” jelasnya.

PPI ditutup dengan ceramah dari KH Muhammad al Khaththath, Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS) ini mengajak jamaah untuk hadir dalam Reuni Akbar 212 di Monas.

“Kalau Aksi 212 tahun lalu kita menggelar shalat Jum’at kubro, insyaallah tahun ini kita buat Shalat Subuh terbesar jamaahnya,” tandasnya. [fathur]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *