Masjid Menara Kudus, Inspirasi dari Palestina

Mengunjungi Kudus tanpa mampir ke bangunan bersejarah peninggalan Walisanga tentu terasa kurang pas. Salah satu bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Masjid Menara Kudus.

 

Masjid Menara Kudus merupakan ikon Kota Kudus dan pernah dijadikan gambar pecahan uang lima ribu rupiah. Lokasi masjid ini berada di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Jika dari arah Jepara, Anda dapat menempuh perjalanan sekitar 3 kilometer ke sebelah barat.

Masjid Menara Kudus juga dikenal dengan nama Masjid Al-Aqsha dan Masjid Al-Manar dibangun pada tahun 1549 di bawah komando Sunan Kudus.

Arsitektur Masjid Menara Kudus gabungan antara budaya Islam dan Hindu. Nuansa Hindu di Masjid Menara Kudus bisa ditemukan di Menara Kudus yang menjadi ciri khas masjid.

Menara setinggi 18 meter ini dibangun menyerupai candi Hindu seperti yang biasa ditemukan di Bali.

Sunan Kudus membangun masjid ini sebagai salah satu media untuk berdakwah yang melalui pendekatan budaya. Pada abad ke-7, banyak warga menganut ajaran Hindu dan Budha, bahkan ada yang masih menganut animisme dan dinamisme.

Menara Kudus dibangun menggunakan batubata merah tanpa perekat semen. Menara ini terdiri atas tiga bagian, yakni: kaki, badan, dan puncak menara. Bagian kaki memiliki dimensi 10 x 10 meter persegi. Pada sisi-sisi badan menara terdapat hiasan berupa piring bergambar yang kalau dihitung jumlahnya ada 32 buah.

Ada 20 di antaranya berwarna biru dengan gambar masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sedangkan sisanya ada 12 berwarna putih dan berhiaskan gambar bunga. Di dalam menara terdapat sebuah tangga yang dibuat dari kayu jati tua. Tangga ini diperkirakan dibangun pada tahun 1895.

Sementara pada bagian puncak menara ini terdapat sebuah mustaka seperti yang biasa kita lihat pada beberapa bangunan tradisional Jawa.

Masjid Menara Kudus ini memiliki empat buah jendela dengan lima pintu. Ada delapan tiang besar di dalam masjid, semuanya terbuat dari kayu jati.

Di dalam area masjid terdapat kolam sebagai tempat wudhu dan padasan peninggalan zaman kuno. Selain kolam, di kompleks ini juga terdapat delapan buah tempat wudhu dengan hiasan arca di atasnya dengan panjang 12 meter, lebar 4 meter dan tinggi 3 meter. Jumlah delapan  ini berdasarkan keyakinan Budha, Asta Sanghika Marga—Delapan Jalan Kebenaran.

Sunan Kudus yang bernama asli Raden Ja’far Shadiq, putra dari Sunan Ngudung, kakak dari Sunan Ampel.

Raden Ja’far Shadiq mendapatkan pendidikan agama dari beberapa guru, seperti Sunan Ampel dan Kiai Telingsing (The Ling Sing), seorang ulama sekaligus pencetus seni ukiran kayu khas pesisir utara Jawa yang berasal dari Yunnan Selatan, Tiongkok.

Demi menambah pengalaman dan ilmunya, Sang Raden melakukan beberapa perjalanan hingga ke Timur Tengah. Selain jazirah Arab, ia juga menjejakkan kaki di Al-Quds, Palestina.

Kota berbenteng agung itu ternyata meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hatinya.

Bayangan Al-Quds di Palestina telah menginspirasi untuk membangun versi kecilnya di Desa Tajug. Dengan berbekal beberapa batu hadiah dari Timur Tengah itu, ia membangun sebuah masjid dan kota baru. Ia menyematkan nama Al-Aqsha pada masjid itu, dan menamai kotanya dengan Al-Quds, yang kemudian dikenal sebagai Kudus.

Meski telah berusia hampir lima abad, bagian-bagian masjid tersebut masih dapat disaksikan hingga kini, tapi ada sedikit perubahan di sana sini. Misalnya, Gerbang Paduraksa Pertama yang tak lagi memiliki lawang kembar di kedua sisinya, dan kini diletakkan di dalam serambi masjid. [Fathurroji]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *