Jakarta, Gontornews – Sekitar 28 mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengunjungi Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI, Jakarta Timur. Kegiatan yang diselenggarakan pada Selasa (06/10/2026) ini merupakan bagian dari rangkaian Studi Pengayaan Lapangan (SPL) bagi mahasiswi IQT UNIDA Gontor di Jakarta dan Bandung.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Gedung Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu, rombongan IQT UNIDA menerima materi dari Dr H Deni Hudaeny Ahmad Arifin Lc., M.A. dan H Mustopa MSI. Adapun dosen pembimbing IQT UNIDA Gontor yang hadir dalam pertemuan ini yaitu Ustadz Mahmud Rifanuddin SUd., MAg., Ustadz Fahmi Akhyar Al Farabi SAg., MAg., dan Ustadzah Dr Nindhya Ayomi Delahara S.Ag., M.Pd.
Pemateri pertama, Dr Deni Hudaeny menjelaskan peran LPMQ Kementerian Agama RI dalam melakukan penelitian, pentashihan, pembinaan dan pengawasan peredaran mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Para peserta SPL IQT UNIDA Gontor pun mendapatkan gambaran tentang proses pentashihan Mushaf Standar Indonesia (MSI).
“Termasuk pemeriksaan teks, rasm, harakat, tanda waqaf, dan unsur penulisan lainnya,” ungkap Dosen Pembimbing IQT UNIDA Gontor, Fahmi Akhyar Al Farabi, kepada gontornews.com.
Dr Deni juga menjelaskan tentang proses pentashihan Al-Qur’an yang dilakukan secara berlapis. Apabila ditemukan kesalahan, naskah dikembalikan kepada penerbit untuk diperbaiki dan diperiksa kembali sebelum dinyatakan layak diterbitkan.
“Pentashihan bukan sekadar mencari kesalahan dalam mushaf, tetapi merupakan proses memastikan setiap unsur yang terdapat dalam mushaf telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ucap Dr Deni Hudaeny.
Mahasiswi juga mendapatkan pengalaman untuk melakukan praktik sederhana pentashihan dengan meneliti contoh lembaran mushaf yang memuat kesalahan tertentu. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya ketelitian dalam menjaga keakuratan mushaf.
“Seorang pentashih harus memiliki ketelitian yang tinggi karena yang diperiksa adalah mushaf Al-Qur’an yang akan dibaca dan digunakan oleh masyarakat,” tambah pria alumnus Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta tersebut.
Selain pentashihan, pembahasan memperkenalkan sejarah mushaf dan manuskrip Al-Qur’an di berbagai wilayah Nusantara. Mahasiswi mengenal tradisi penyalinan mushaf di sejumlah daerah serta unsur khas manuskrip, seperti penggunaan kertas daluang dan iluminasi.
“Pengalaman tersebut memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan ketelitian dan kecintaan terhadap khazanah mushaf Al-Qur’an,” ucap Maftunah, salah seorang mahasiswi SPL IQT UNIDA Gontor.
“Saya berharap kunjungan ke LPMQ menjadi bekal penting bagi kami dalam mengembangkan kajian Al-Qur’an secara lebih komprehensif, khususnya dalam bidang pentashihan, rasm, manuskrip, dan sejarah mushaf Nusantara,” tutup Maftunah. [Mohamad Deny Irawan]


























