Ankara, Gontornews — Kapal penelitian Turki, Oruc Reis, telah kembali ke pelabuhan Provinsi Antalya setelah menyelesaikan studi seismik di Mediterania timur, kurang dari dua pekan sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa berlangsung. Uni Eropa akan mengevaluasi kemungkinan sanksi terhadap Ankara.
“Kapal penelitian seismik Oruc Reis telah menyelesaikan studi seismik dua dimensi [2D] di lapangan Demre, yang dimulai pada 10 Agustus. Kapal kami, yang mengumpulkan data seismik 2D sepanjang 10.955 kilometer, telah kembali ke Pelabuhan Antalya,” kata Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam pada 30 November di posting Twitter-nya.
Hurriyetdailynews.com merilis, data pelacakan kapal Refinitiv telah mengonfirmasi bahwa Oruc Reis telah kembali ke pelabuhan di Antalya pada 30 November pagi. Data tersebut juga menunjukkan kapal bor Yavuz di perairan dekat pantai selatan Turki, sementara kapal survei seismik Barbaros Hayreddin Pasa masih berada di laut selatan Siprus.
Berbagai survei geologi, geofisika, hidrografi dan oseanografi, terutama landas kontinen dilakukan, sambil mencari sumberdaya alam.
Anggota NATO, Turki dan Yunani, saling mengklaim atas landas kontinen dan hak atas sumberdaya energi potensial di Mediterania timur. Ketegangan meningkat pada Agustus ketika Ankara mengirim Oruc Reis untuk memetakan prospek pengeboran energi di perairan yang juga diklaim oleh Yunani.
Setelah ketegangan beberapa pekan, Ankara dan Athena setuju untuk melanjutkan pembicaraan mengenai klaim maritim mereka pada bulan September. Hal ini mengakhiri jeda empat tahun. Tetapi sejak itu Yunani mengatakan tidak akan memulai pembicaraan selama kapal Turki berada di perairan yang diperebutkan.
Turki sebelumnya menarik kapal Oruc Reis dari Mediterania timur menjelang KTT Uni Eropa sebelumnya pada Oktober untuk “memungkinkan diplomasi dengan Yunani,” tetapi kemudian mengirimnya kembali setelah tidak puas dengan hasil KTT tersebut.
Kapal itu sebelumnya diharapkan menyelesaikan pekerjaannya pada 23 November, tetapi Ankara telah memperpanjang survei seismiknya di daerah yang disengketakan di Mediterania timur hingga 29 November.
Pekan lalu, Parlemen Uni Eropa menyerukan sanksi terhadap Ankara atas kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdogan ke Siprus Utara dan operasi Turki di Mediterania timur, yang disebut ilegal. Namun Turki sepenuhnya menolak hal ini.
Para pemimpin Uni Eropa akan bertemu pada 11-12 Desember untuk membahas sanksi terhadap Turki. Prancis mendorongan Uni Eropa untuk memberi sanksi kepada Turki. Paris belum mengeluarkan sanksi, tetapi para diplomat mengatakan bahwa tindakan apa pun yang diambil kemungkinan akan menargetkan area ekonomi Turki yang terkait dengan hidrokarbon. []




















