Dhaka, Gontornews — Relokasi pengungsi etnis Rohingya di Bangladesh ke Pulau Bhasan Char di Teluk Benggala terus berjalan. Setelah sebelumnya berhasil merelokasi 1.642 pengungsi Rohingya di kamp Cox’s Bazar bulan lalu, kini, Pemerintah Bangladesh berhasil memindahkan 1.804 pengungsi lainnya, Selasa (29/12).
Dalam pemberangkatan kali ini, Angkatan Laut Bangladesh membawa 1.804 etnis Rohingya dengan lima kapal. Beberapa pengungsi duduk di dek kapal dengan membawa hewan ternaknya seperti bebek, burung maupun ayam dalam keranjang bambu. Mereka juga menggunakan rompi pelampung serta masker demi mencegah penularan Covid-19.
Meski demikian, sejumlah aktivis hak asasi manusia mengecam langkah pemerintah Bangladesh yang memindahkan pengungsi Rohingya ke Pulau Bhasan Char. Mereka berdalih bahwa pulau tersebut rentan terhadap bencana angin topan maupun cuaca buruk.
Sebagai informasi, pada tahun 1991, hampir 143.000 orang tewas ketika topan melanda wilayah tersebut. Selain topan, mereka juga dilanda gelombang pasang setinggi 4,5 meter.
Akan tetapi, keraguan tersebut mendapatkan bantahan dari Pemerintah Bangladesh. Menteri Luar Negeri Bangladesh, Abdul Momen, memastikan bahwa pulau tersebut sepenuhnya aman. Pemerintah, lanjut Abdul Momen, telah membangun tanggul setinggi 2 meter sepanjang 12 km untuk melindungi pulau tersebut dari bencana alam.
“Pulau itu sepenuhnya aman,” kata Abdul Momen kepada Reuters.
Sejumlah warga Rohingya menyebut Pulau Bhasan Char lebih bai ketimbang kamp pengungsian di Cox’s Bazar. Abdul Momen pun sependapat dengan hal tersebut. Menurutnya, warga Rohingya yang memutuskan untuk pindah ke Bhasan Char sangat senang dengan lokasi tersebut.
“Warga Rohingya yang pindah ke sana sangat senang dengan aturan tersebut. Beberapa kelompok jahat menyebarkan propoganda negatif,” tutup Momen. [Mohamad Deny Irawan]




















