New York, Gontornews — Badan Kemanusiaan PBB, Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), Kamis (24/6/2021), mengatakan 230.000 warga Myanmar mengungsi akibat kekerasan dan membutuhkan bantuan kemanusiaan.
OCHA mengatakan bahwa operasi pendistribusian bantuan kemanusiaan sedang berjalan namun terhalang akibat bentrokan senjata, kekerasan serta ketiadaan jaminan keamanan dari negara.
Dalam catatan OCHA, 177.000 warga negara Karen yang berbatasan dengan Thailand mengungsi dengan 103.000 warga mengungsi bulan lalu. Sementara itu, lebih dari 20.000 warga berlindung di 100 daerah pengungsian setelah pasukan pertahanan rakyat bertempur dengan militer di negara bagian Chin yang berbatasan dengan India.
Beberapa ribu orang lain melarikan diri dari pertempuran yang terjadi di negara bagian Kachin dan Shan Utara. Kedua wilayah tersebut merupakan wilayah yang memiliki sejarah panjang permusuhan dengan pihak militer.
Kelompok militer etnis Karen, Karen National Unitiy (KNU), mengatakan keprihatinannya terhadap hilangnya sejumlah warga sipil akibat kekerasan serta penggunaan kekuatan militer yang berlebihan.
“KNU akan terus berjuang melawan kediktatoran militer dan memberikan perlindungan sebanyak mungkin kepada warga sipil tak bersenjata,” ungkap pernyataan resmi KNU, sebagaimana dilansir Channel News Asia.
Negara-negara Asia Tenggara terus melakukan upaya diplomatik untuk mengakhiri krisis dan memulai dialog yang sempat terhenti. Petinggi militer Myanmar mengatakan pihaknya akan tetap pada rencana mereka untuk melakukan penertiban serta mengadakan pemilihan umum dalam dua tahun mendatang. [Mohamad Deny Irawan]


















