Tokyo, Gontornews — Tersangka penembak mati mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Tetsuya Yamagami, Rabu (13/7/2022), mengaku bahwa target utama penembakan yaitu petinggi organisasi keagamaan, Gereja Unifikasi. Yamagami menyimpan dendam karena keuangan keluarga hancur setelah ibunya menyumbangkan sebagian besar uangnya kepada organisasi tersebut.
Awalnya, Kyodo News melansir, Yamagami menargetkan Hak Ja Han Moon yang merupakan istri dari pendiri sekaligus pemimpin Federasi Keluarga untuk Perdamaian dan Penyatuan Dunia. Namun, karena Moon tidak berada di Jepang, Yamagami lantas mengalihkan ‘bidikan’ tembakannya kepada Abe.
Yamagami bahkan membatalkan rencananya untuk pergi ke Korea Selatan untuk membunuh Moon karena berpikir ia tidak bisa meninggalkan negara itu jika melakukan tindakan berbahaya tersebut.
Pihak kepolisian mengungkapkan, Yamagami telah membawa senjata tajam dan berkeliaran di sekitar lokasi termasuk di mana Gereja Unifikasi menyelenggarakan pertemuan. Bahkan, pihak kepolisian berhasil menemukan sejumlah lubang-lubang peluru di tempat parkir bertingkat sektiar 90 meter sebelah Utara lokasi kejadian.
Pada 2019, Yamagami pernah membawa bom molotov ke tempat pertemuan yang dihadiri Moon di Prefektur Aichi tetapi tidak bisa masuk.
Yamagami mengatakan kepada polisi bahwa serangan terhadap Abe bukan bermuatan politik. Namun, ia percaya bahwa Kakek Abe, Nobusuke Kishi, adalah orang pertama yang mengundang pihak gereja unifikasi untuk beropeasi di Jepang.
Tomihiro Tanaka, Ketua Gereja Unifikasi Jepang, mengonfirmasi bahwa Ibu Yamagami merupakan pengikut gereja unifikasi sejak 1998 serta mengetahui bahwa situasi finansial keluarga Yamagami hancur pada tahun 2002. Meski demikian, Tanaka juga menjelaskan Abe maupun Nobusuke bukanlah anggota gereja unifikasi seperti yang Yamagami sangka. [Mohamad Deny Irawan]


















