Jakarta, Gontornews – Upaya menumbuhkan budaya literasi Islami berbasis keteladanan Rasulullah SAW terus menunjukkan daya hidup yang kuat dan berkelanjutan melalui program “Semua Membacanya 2025”, yang resmi ditutup pada 8 Februari 2026 di Auditorium Al-Quddus, Universitas YARSI, Jakarta.
Program yang diinisiasi oleh Majalah Mata Air ini menegaskan bahwa membaca sirah Nabi Muhammad bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan ikhtiar peradaban untuk membangun karakter, memperkuat ketahanan keluarga, serta menumbuhkan orientasi nilai generasi muda di tengah tantangan zaman.
Sejak pertama kali digelar pada tahun 2020, ‘Semua Membacanya’ telah melibatkan 25.083 peserta dari 38 provinsi di Indonesia dan diaspora Indonesia di mancanegara, tidak terkecuali di tahun ini, dengan keterlibatan peserta dari Swiss, Filipina, dan Mesir.
Di tahun 2025, atau penyelenggaraan ke-6 ini, antusiasme publik tetap tinggi dengan 4.078 peserta yang mendaftar atau total 5.970 peserta yang terlibat dalam keseluruhan rangkaian kegiatan, termasuk pop quiz, bedah buku, seminar, kuis seminar, lomba foto, dan lomba video.
Rektor Universitas YARSI, Prof Dr Fasli Jalal PhD, menilai kegiatan “Semua Membacanya” sebagai contoh bagaimana langkah kecil dapat menghasilkan dampak sosial yang luas. “Langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat bergelombang menjadi gerakan besar. Kegiatan membaca sirah nabawiyah ini menunjukkan bahwa masih panjang jalan kebaikan yang bisa kita tempuh, dan gelombangnya in syaa Allah akan terus membesar,” ujarnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad justru semakin relevan di tengah dunia modern yang penuh ketidakpastian. “Apa yang diteladankan Nabi Muhammad tentang kepemimpinan, karakter, dan akhlak kini bahkan dibuktikan secara ilmiah sebagai fondasi keberhasilan manusia,” tambahnya dalam rilis yang diterima gontornews.com.
Pemimpin Redaksi Majalah Mata Air, Astri Katrini Alafta SS MEd CHt, menjelaskan bahwa “Semua Membacanya” lahir dari keyakinan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi jalan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah. “Kami menemukan bahwa membaca sirah Nabi selama 112 hari berturut-turut bukan hanya meningkatkan literasi, tetapi juga menjadi obat dan pelita bagi hati, terutama generasi muda yang sedang kehilangan pegangan,” ungkapnya.
Ia melanjutkan bahwa sejak November 2025 hingga penutupan program, peserta bersama-sama membaca sirah Nabi Muhammad secara berkelanjutan sebagai bentuk perayaan keteladanan sepanjang tahun, bukan hanya pada momen tertentu.
Direktur Utama PT Ufuk Baru, Edfian Noerdin SE MM, menilai program ini sebagai bukti bahwa literasi bermakna masih memiliki tempat kuat di tengah budaya instan. “Ketika ribuan orang rela meluangkan waktu membaca sirah Nabawiyah secara konsisten, ini menunjukkan bahwa literasi bernilai tidak pernah mati. Justru inilah literasi yang dibutuhkan bangsa,” ujarnya.
Teknologi dan Makna “Semua”
Direktur AICOMS Telkom University, Dr Eng Khoirul Anwar ST MEng, menekankan makna filosofis kata ‘semua’ dalam Semua Membacanya. “Jika ingin menemukan kualitas terbaik, maka semua harus dilibatkan, lintas usia, lintas bidang, dan lintas latar belakang. Seperti teknologi kuantum yang memeriksa seluruh kemungkinan, membaca sirah Nabi merupakan usaha kolektif membangun kekuatan umat,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa di era kecerdasan buatan dan teknologi supercepat, nilai akhlak dan keteladanan Nabi Muhammad menjadi penyeimbang yang tidak dapat digantikan teknologi.
Membaca Sirah sebagai Pendidikan Jiwa
Penulis buku mega best seller Negeri Lima Menara, Ahmad Fuadi, menyebut Semua Membacanya sebagai gerakan literasi yang berani tampil tidak mainstream. “Membaca sirah Nabi dengan pendekatan seperti ini menyentuh alam bawah sadar dan membentuk cara pandang hidup. Ini bukan sekadar lomba, tapi pendidikan jiwa lintas generasi,” tuturnya.
Ia memaknai sirah Nabi sebagai samudera hikmah yang dapat terus diselami dan dimaknai ulang sesuai tantangan zaman.
Investasi Peradaban
CEO Cordoba Internasional Indonesia, Usman El-Qurtuby, menyoroti kuatnya korelasi antara literasi sirah dan literasi Al-Qur’an. “Membangun kecintaan kepada Nabi Muhammad sebagai Al-Qur’an yang berjalan merupakan jalan strategis untuk memperbaiki generasi. Ini bukan event sesaat, tetapi investasi peradaban,” ujarnya.
Ekosistem Literasi di Era Digital
CEO Rene Turos Group, Lukman Hakim Arifin, menilai bahwa tantangan literasi saat ini bukan pada minat baca, melainkan kedalaman membaca. “Minat baca masyarakat sebenarnya tinggi. Yang perlu diperkuat ekosistem literasi yang mendorong pembacaan mendalam, dan ‘Semua Membacanya’ hadir menjawab kebutuhan itu,” jelasnya.
Dukungan dan Kolaborasi
Di edisi 2025, Cordoba Internasional Indonesia dan Rene Turos Group hadir sebagai official partner. Program ini juga mendapat dukungan sponsor dari PT Yudhistira Ghalia Indonesia, sebagai sponsor utama yang terus membersamai perjalanan Semua Membacanya selama 6 tahun ini, selain juga dari Klinik Madeena, Fish Streat, Universitas YARSI, Rumah Sakit YARSI, ZerOne, Bess Project, serta Praktik Tour and Travel.
Sepanjang penyelenggaraan, ‘Semua Membacanya 2025’ menyalurkan total hadiah Rp80 juta kepada 118 pemenang dari kategori umum, remaja, dan anak yang berasal dari 16 provinsi. Rangkaian kegiatan berlangsung selama 112 hari, dari 6 Oktober 2025 hingga 25 Januari 2026, dan ditutup secara resmi pada 8 Februari 2026.
Acara penutupan Semua Membacanya 2025 turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan pegiat literasi, di antaranya: Buya Taufik Ismail (Budayawan dan Sastrawan Indonesia); Edfian Noerdin SE MM (Direktur Utama PT Ufuk Baru); Astri Katrini Alafta SS MEd CHt (Pemimpin Redaksi Majalah Mata Air); Lukman Hakim Arifin (CEO Rene Turos Group); Usman El-Qurtuby (CEO Cordoba Internasional Indonesia); Rektor Universitas YARSI (Prof Dr Fasli Jalal PhD); Dr Eng Khoirul Anwar ST MEng (Direktur AICOMS Telkom University); Prof Dr Riri Fitri Sari (Direktur ICT Research Center Universitas Indonesia); Ahmad Fuadi (Penulis buku mega best seller); Aisyah Lukman (Komisaris PT Yudhistira Ghalia Indonesia); dr Siti Aurelia Nurmalasari MSc SPa (Klinik Madeena).
Kehadiran para tokoh tersebut menegaskan dukungan lintas sektor terhadap penguatan literasi Islami melalui pembacaan sirah Nabawiyah. []


















