Jakarta, Gontornews – Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melaksanakan kunjungan akademik ke Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta, Ahad (4/10/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Studi Pengayaan Lapangan (SPL) bagi 28 mahasiswi IQT semester 6.
Kunjungan bertema ‘Mengkaji Tantangan Studi Al-Qur’an Kontemporer serta Relevansinya dalam Pendidikan dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan’ ini didampingi Ustadz Mahmud Rifanuddin SUd MAg, Ustadz Fahmi Akhyar Al Farabi SAg MAg, dan Ustadzah Dr Nindhya Ayomi Delahara SAg MPd.
Bertempat di kantor INSISTS Jakarta Selatan, mahasiswa mendapatkan pemaparan dari Ustadz Mohammad Syam’un Salim MAg dan Ustadz Masau Dito Pendi SAg mengenai tantangan studi Al-Qur’an kontemporer, epistemologi Islam, serta pengembangan tradisi keilmuan.
Pada sesi pertama, Syam’un Salim membahas tantangan pengembangan tradisi keilmuan Islam, termasuk keterjajahan keilmuan, inferioritas terhadap peradaban Barat, dan ketergantungan terhadap kerangka pengetahuan di luar tradisi intelektual Islam. Pembahasan juga menyinggung konsep epistemicide serta pentingnya membangun kemandirian epistemologi.
“Umat Islam perlu membangun kedaulatan epistemologi. Kita tidak harus menolak kemajuan pemikiran Barat secara buta, tetapi tidak boleh juga menerimanya tanpa sikap kritis,” ujarnya saat menerima kunjungan IQT UNIDA Gontor di kantor INSISTS Jakarta, Ahad (4/10/2026).
Ia juga mengingatkan mahasiswa mengenai pentingnya membangun kapasitas keilmuan sebagai bekal seorang penuntut ilmu. “Seseorang yang tidak memiliki apa-apa, tidak memberikan apa-apa,” sambungnya.
Sementara itu, Masau Dito Pendi mengarahkan pembahasan pada interaksi dengan Al-Qur’an dan persiapan mahasiswa dalam melakukan penelitian. Mahasiswa didorong untuk membangun tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis sebagai bekal memasuki tahap penelitian dan penyusunan skripsi.
“Jangan panik dalam mencari ide penelitian. Gagasan dapat muncul dari pertanyaan ilmiah ketika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an, pengalaman akademik, maupun fenomena yang ada di sekitar,” ungkapnya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi dan sesi tanya jawab. Kunjungan ini memberikan pengalaman akademik kepada mahasiswa IQT untuk memperluas wawasan mengenai epistemologi Islam, tantangan studi Al-Qur’an kontemporer, sekaligus membangun budaya membaca, berdiskusi, dan menulis.
Bagi mahasiswa IQT, kunjungan ke INSISTS menjadi bagian dari penguatan kapasitas akademik dan keilmuan sebagai bekal dalam mengembangkan studi Al-Qur’an dan Tafsir secara kritis, ilmiah, serta tetap berlandaskan worldview Islam. [Mohamad Deny Irawan/Salsa Nurfarida Nisfa Syahri Syahbani/Fahmi Akhyar Al Farabi]
























