Bogor, Gontornews — Penguasaan kitab turats menjadi salah satu bekal penting bagi santri dalam memahami khazanah keilmuan Islam. Di Pesantren Darul Muttaqien, Parung, Bogor, proses pembelajaran tersebut terus dikembangkan melalui kegiatan Fathul Kutub, yang kini memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana penelusuran dan pengkajian referensi keislaman.
Kegiatan Fathul Kutub tahun 2026 dilaksanakan dalam dua tahap. Santri kelas lima Tarbiyyatul Mu’allimat Al-Islamiyyah (TMI) Putri mengikuti kegiatan pada 5 hingga 8 Oktober 2026 di Ruang Audio Visual, sedangkan santri putra melaksanakannya pada 12 hingga 14 Oktober 2026.
Melalui pendekatan digital, santri tidak lagi hanya mengandalkan buku-buku turats dalam bentuk fisik. Mereka dibekali keterampilan memanfaatkan teknologi untuk menelusuri referensi, menemukan dalil, serta mendalami pemikiran para ulama. Pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari upaya menyesuaikan metode pembelajaran tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren.
Fathul Kutub bukan sekadar kegiatan membaca kitab, melainkan latihan memahami isi, konteks, serta metode pengambilan kesimpulan dari sumber-sumber keislaman. Dalam kegiatan santriwati, materi yang dikaji meliputi Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqih, dan Ilmu Hadis.
Pada kegiatan santriwati, materi yang dikaji meliputi Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqih, dan Ilmu Hadis. Ustadzah Iis Sumiyati SPd membimbing santriwati mempelajari kaidah Ilmu Tafsir dan metode penafsiran ayat al-Qur’an. Materi kemudian dilanjutkan oleh Ustadz Iwan Bagja Nurmawan SSosI yang membahas Ilmu Fiqih dan Ilmu Hadis. Sementara itu, pada kegiatan santri putra, Ust. Abdullah Khotib Nadhori menyampaikan materi Ilmu Hadis, Ust. Dony Syaputra membimbing kajian Ilmu Fiqih, dan Ust. Fanny Ardiansyah mengampu materi Ilmu Tafsir.
Dilansir darul-muttaqien.com, saat membuka kegiatan, Kepala TMI, Ust Hendrizal Rasyid SS menekankan pentingnya Fathul Kutub untuk melatih ketelitian, memperkuat pemahaman, dan membiasakan santri merujuk karya para ulama yang otoritatif.
“Manfaatkan kegiatan Fathul Kutub ini sebaik-baiknya untuk mendalami khazanah keislaman langsung dari sumbernya. Latih ketelitian dalam mencari rujukan, pahami konteksnya, dan pelajari bagaimana para ulama mengambil kesimpulan,” terangnya.
Pemanfaatan teknologi digital dalam Fathul Kutub menunjukkan bahwa tradisi keilmuan pesantren dapat berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Teknologi menjadi alat bantu untuk memperluas akses terhadap referensi, sementara ketelitian, pemahaman metodologi, dan sikap ilmiah tetap menjadi hal utama.
Melalui kegiatan ini, santri kelas 5 TMI diharapkan semakin terampil mengkaji sumber-sumber keislaman dan memiliki fondasi keilmuan yang kuat. []























