Yogyakarta, Gontornews — Sebanyak 19 mahasiswa semester dua Kelas B Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengikuti program Sekolah Calon Ayah di Yayasan Rumpun Nurani, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari Academic Tour yang berlangsung pada Senin–Rabu, 19–21 Oktober 2026, dengan pendampingan Ustadz Assoc Prof Harda Armayanto MA PhD dan Ustadzah Maria Ulfa MFilI
Bagi mahasiswa AFI, persiapan menjadi pemimpin dan ayah berkaitan erat dengan pertanyaan tentang keyakinan, tujuan hidup, dan tanggung jawab manusia. Sekolah Calon Ayah memberi mereka ruang untuk menghubungkan persoalan tersebut dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari mengenali diri hingga belajar mengambil keputusan dan menghadapi perbedaan.
Program ini memadukan One Day Workshop di Kolektif Coworking Space & Collaboraction dan Spiritual Camp di Bumi Perkemahan Gondang 2 Indah, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Ustadz Harda Armayanto menekankan bahwa keinginan menjadi ayah perlu diiringi kesungguhan membekali diri dengan iman, ilmu, dan amal shalih. Artinya, ayah yang baik adalah yang beriman, berilmu, dan beramal shalih.
Banyak yang menjadi ayah, tapi ternyata tidak berilmu dan beriman, walhasil amal perbuatannya banyak yang melenceng. Menjadi ayah, tapi terpapar virus LGBT. Ini yang banyak terjadi saat ini.
“Menjadi ayah berarti memikul tanggung jawab untuk membimbing dan memberikan teladan bagi keluarga dan masyarakat. Karena itu, persiapannya perlu dimulai sejak muda,” terang Dosen UNIDA Gontor tersebut.
Pesan tersebut sejalan dengan moto Rumpun Nurani, “Meniti Ilmu, Memacu Amal, Menggali Hikmah”. Hubungan antara pengetahuan dan pengamalannya menjadi benang merah kegiatan ini, sekaligus memperlihatkan relevansinya dengan pendidikan di Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam.
Kepada Gontornews.com, Ustadz Harda menuturkan pesannya bagi para mahasiswa, “Cita-cita perlu dipersiapkan dengan bekal ilmu dan iman agar setiap langkah untuk meraihnya memiliki pijakan yang kuat, terukur, dan terarah.” Namun, sambungnya, di tengah kesungguhan berikhtiar, mahasiswa harus tetap yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik penentu.
“Tugas kita berusaha sebaik mungkin dan bertawakal kepada-Nya, sebab Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita,” tutup alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 2005 mengakhiri pesannya kepada para mahasantri usai mengikuti rangkaian acara bermakna tersebut. [Edithya Miranti]
























