Ponorogo, Gontornews — Tere Liye, salah satu penulis top Indonesia hadir sebagai narasumber dalam Pekan Literasi Santri (PELITA) 2026 sesi ketiga. Penulis buku Hafalan Shalat Delisa tersebut mengemukakan bahwa tulisan adalah salah satu alat manusia untuk mempertahankan ilmu pengetahuan menembus batas ruang dan waktu.
”Manusia, ribuan tahun berlalu, begitu super kemajuan yang dihasilkan, mengapa? Karena manusia punya tulisan,” ujar Tere disadur gontor.ac.id.
Bagi Tere, santri yang membaca harus bisa menyebarkan manfaat dari apa yang ia baca. ”Esok lusa kalian jadi apa, jadikan apa yang kalian baca sebagai gagasan, hal yang bermanfaat,“ tekannya.
Sang penulis menilai, santri pesantren sudah memiliki kemampuan membaca yang tinggi. Menurutnya, mayoritas santri di Gontor bahkan berada pada level 5 dan 6 dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Skor itu merupakan level tertinggi dalam penilaian kemampuan siswa yang dilakukan secara internasional tersebut.

Keterbatasan bukanlah penghambat bagi mereka yang gemar membaca. Hal itu tampak saat sesi tanya jawab, ketika seorang santri penyandang disleksia (gangguan belajar yang mempengaruhi kemampuan membaca dan mengeja) bertanya tentang cara mengatasi kekurangannya.
Menanngapi pertanyaan tersebut, Tere kemudian menjawab, ”Pasti ada hikmah di balik kekuranganmu.” Kalau orang lain bisa membaca satu buku padahal kamu baru satu halaman, tambahnya, bisa jadi Tuhan menganugerahkan pemahaman yang lebih dalam, lebih bermakna.
Literasi adalah pelita penerang manusia di setiap zaman dan waktu. Seseorang yang berada di Amerika bisa mengetahui kabar yang terjadi di Indonesia lewat berita, tulisan. Budaya membaca penting dilestarikan, terutama di pesantren. Karena santri tidak memiliki akses ke perangkat elektronik, mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk membaca buku. []
























