pesanan-baju-kaos
37 °c
Pecenongan
Sat
Sun
Friday, 16 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Pesan Kiai Gontor tentang Jabatan dan Gelar (Akademik)

Oleh Rahmad Hakim, Alumnus Gontor dan UNIDA Gontor, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang

Mohamad Deny Irawan by Mohamad Deny Irawan
16 October 2026
in Kolom
0
Gontor Maju Karena Keharmonisan & Ukhuwwah

Pidato KH Hasan Abdullah Sahal pada Reuni Abu Sittin di Hotel Santika, Jakarta, Selasa (10/4) malam

Di tengah masyarakat yang semakin kompetitif, gelar akademik menjelma menjadi simbol yang memiliki daya tarik luar biasa. Ia tidak lagi sekadar penanda capaian intelektual seseorang, melainkan telah berkembang menjadi instrumen legitimasi sosial, sumber otoritas, bahkan modal politik.

Nama seseorang yang dihiasi deretan huruf di belakangnya sering kali lebih mudah memperoleh kepercayaan publik dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. Dalam banyak kesempatan, gelar dianggap sebagai representasi kompetensi, kualitas, dan kepemimpinan.

Fenomena tersebut tentu tidak sepenuhnya keliru. Pendidikan tinggi memang dirancang untuk melahirkan manusia yang memiliki keluasan ilmu, kedalaman analisis, dan kemampuan memecahkan persoalan. Bahkan Aristoteles menyatakan: “semakin berilmu seseorang, (seharusnya) semakin menjadi baik”. Karena itu, memperoleh gelar akademik merupakan sesuatu yang baik, bahkan patut didorong.

Islam sendiri menempatkan ilmu pengetahuan pada kedudukan yang sangat tinggi. Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (QS. Al-Mujadilah:[58]: 11). Kehormatan ilmu menjadi fondasi utama kemajuan peradaban Islam sejak masa klasik hingga kini.

BACA JUGA

Menjaga Iman Anak di Tengah Gempuran Gawai

Internalisasi Keimanan Anak Usia Sekolah Dasar: Sinergi Pembinaan Keluarga dan Lingkungan Sosial

Pondok Harus Berdiri Atas Dasar Keterpanggilan Hati

Arsitektur Peradaban Gontor: Sintesis Tasawuf, Sunnatullah, dan Hakikat Pendidikan

Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Orientalis terkemuka Franz Rosenthal bahkan menyebut, dalam karya monumentalnya Knowledge Triumphant,  tidak ada konsep yang lebih dominan dalam peradaban Islam selain ilmu. Baginya, Islam adalah peradaban yang dibangun di atas penghormatan terhadap pengetahuan. Pernyataan tersebut sesungguhnya menegaskan bahwa kemuliaan seorang Muslim tidak terletak pada atribut lahiriah, melainkan pada ilmu yang membimbing amal dan membentuk akhlaknya.

Persoalan muncul ketika gelar mengalami pergeseran makna. Gelar tidak lagi dipandang sebagai konsekuensi dari proses pencarian ilmu, tetapi berubah menjadi tujuan akhir. Akibatnya, sebagian orang rela menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Pelanggaran etika akademik, praktik plagiarisme, manipulasi penelitian, hingga jual beli karya ilmiah menjadi gejala yang semakin sering terdengar. Yang dipertaruhkan bukan sekadar integritas individu, melainkan juga kehormatan dunia akademik itu sendiri.

Ironisnya, publik kini semakin kritis. Mereka tidak lagi mudah terpukau oleh panjangnya deretan gelar akademik. Pengalaman sosial mengajarkan bahwa tidak sedikit orang bergelar tinggi tetapi miskin kompetensi, rendah integritas, dan minim kontribusi nyata.

Sebaliknya, banyak tokoh tanpa gelar akademik yang justru dihormati karena keluasan wawasan, kebijaksanaan, dan pengabdiannya kepada masyarakat. Gelar akhirnya kehilangan ‘tuah’-nya ketika tidak disertai kualitas pribadi.

Dalam konteks inilah pesan-pesan para kiai Pondok Modern Gontor menjadi sangat relevan. Para pendidik di Gontor sejak awal telah mengingatkan bahwa ilmu, jabatan, maupun gelar hanyalah sarana, bukan tujuan kehidupan.

Gontor dan Pesan tentang Ijazah

Salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH Imam Zarkasyi, pernah berpesan, “Ilmu, pribadi dan kecakapanmu dalam masyarakat akan membuktikan buah yang berharga dan dihargai. Nilai daripada ijazah ialah atas hasil usaha bagi kebaikan manusia.”

Kalimat sederhana tersebut sesungguhnya memuat filsafat pendidikan yang sangat mendalam. Nilai sebuah ijazah bukan terletak pada kertas yang dibingkai atau huruf yang melekat di belakang nama seseorang. Nilainya justru lahir ketika ilmu yang diperoleh mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah banyaknya gelar yang dikoleksi, melainkan luasnya kemaslahatan yang dihasilkan.

Pesan serupa tampak dalam nasihat KH Ahmad Sahal yang menyatakan bahwa cita-cita yang tinggi merupakan bagian dari iman. Islam tidak pernah melarang seseorang bermimpi menjadi profesor, doktor, ataupun pemimpin.

Bahkan cita-cita besar adalah bentuk optimisme seorang mukmin secara mantab terhadap rahmat Allah SWT dalam  QS. Ghafir ayat 60, Ud’ūni astajib lakum yang artinya: “berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan!”. Namun, cita-cita besar harus selalu dibimbing oleh niat yang benar. Gelar bukan dicari demi gengsi sosial, melainkan sebagai bekal memperbesar pengabdian kepada umat.

Pesan yang tidak kalah menarik datang dari KH Soiman Luqmanul Hakim. Beliau mengingatkan bahwa ilmu maupun kekayaan bukanlah penentu harga diri seseorang. Harga diri justru dibentuk oleh sikap, perilaku, amal kebajikan, dan keluhuran budi pekerti.

Nasihat ini terasa semakin relevan pada era media sosial ketika pencitraan sering kali lebih menonjol daripada substansi. Banyak orang berlomba menampilkan identitas akademiknya, tetapi lupa membangun karakter. Padahal, masyarakat pada akhirnya tidak hanya menilai apa yang diketahui seseorang, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Perspektif yang lebih operasional disampaikan oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Beliau mengajukan pertanyaan yang sangat filosofis: “Gelar akademik itu bukan untuk jadi apa, tetapi agar bisa berbuat apa?”.

Pertanyaan tersebut menggeser orientasi pendidikan dari status menuju pengabdian. Yang penting bukan apakah seseorang menjadi pejabat, rektor, menteri, atau direktur setelah memperoleh gelar. Yang jauh lebih penting adalah manfaat yang dapat ia hadirkan bagi sesama.

Karena itu, beliau juga berpesan agar setiap insan menjadi manusia yang kuat iman, kaya ilmu, kaya jasa, dan kaya harta. Menariknya, urutan tersebut menunjukkan bahwa ilmu tidak pernah dipisahkan dari keimanan dan pengabdian. Ilmu yang tidak melahirkan jasa hanya akan menjadi kebanggaan pribadi yang miskin makna.

Pandangan yang sangat tajam juga disampaikan oleh Pimpinan Gontor saat ini, KH Hasan Abdullah Sahal. Menurut beliau, banyak manusia berkualitas tetapi tidak bertitel. Sebaliknya, banyak pula manusia bertitel tetapi tidak berkualitas.

Kalimat tersebut bukan ajakan untuk meremehkan pendidikan tinggi. Sebaliknya, ia merupakan kritik terhadap cara berpikir yang menjadikan gelar sebagai ukuran tunggal kualitas manusia. Idealismenya tentu bukan memilih antara kualitas tanpa gelar atau gelar tanpa kualitas, tetapi tetap menghadirkan keduanya secara bersamaan. Gelar memperkuat kapasitas intelektual, sementara kualitas pribadi memastikan ilmu tersebut menghadirkan manfaat.

Beliau bahkan mengingatkan bahwa hidup hanya untuk mengejar gelar adalah kehidupan yang murah. Yang mahal adalah hidup yang dipandu oleh nilai-nilai, yakni menjadi mundzirul qaum, pemberi peringatan dan pencerah bagi masyarakat. Oleh karena itu, beliau menegaskan bahwa saat ini dunia tidak hanya membutuhkan kecerdasan otak, tetapi terutama kecerdasan nurani.

Pesan tersebut terasa sangat kontekstual di tengah kemajuan kecerdasan buatan, digitalisasi, dan kompetisi global. Dunia modern tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kali kekurangan orang bijaksana. Kita memiliki banyak ahli, tetapi belum tentu memiliki banyak teladan.

Lebih lanjut, Putra Kiai Ahmad Sahal itu menyatakan agar para santri menjadi orang yang terdidik nan mendidik. Pendidik harus menjadi teladan bagi para peserta didiknya. Sebab tiada kemajuan dan kesuksesan tanpa kedisiplinan, dan tiada kedisiplinan tanpa keteladanan.

“Dirikanlah perguruan tinggi atau universitas di dalam dirimu sendiri; (yaitu) universitas Iman, universitas Islam dan Ihsan. Universitas yang didalamnya ada fakultas keteladanan, kejujuran dan keberanian,” pesan Kiai Hasan.

Dimensi spiritual dari ilmu semakin dipertegas oleh Almarhum Ust Syarif Abadi, salah serang guru PMDG yang wafat pada 3 Februari 2025. Beliau mengingatkan bahwa semakin tinggi gelar akademik seseorang, semakin tinggi pula kualitas ibadahnya. Gelar yang terus bertambah harus diiringi dengan bertambahnya kedekatan kepada Allah SWT.

Ungkapan beliau yang sangat terkenal, “Kalau suatu hari titel pendidikanmu berderet-deret panjang seperti sepur, kualitas ibadahmu juga harus seperti itu” merupakan kritik terhadap lahirnya intelektual yang kehilangan dimensi spiritual.

Beliau kemudian mengutip ungkapan para ulama: Man izdāda ‘ilman walam yazdad hudan lam yazdad minallāhi illā bu’dan yang berarti barangsiapa bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayahnya, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh.

Di sinilah letak keistimewaan paradigma pendidikan Gontor. Ilmu tidak pernah dipisahkan dari akhlak, keimanan, dan pengabdian. Pendidikan bukan sekadar mencetak orang pandai, melainkan membentuk manusia utuh yang memiliki integritas moral sekaligus kapasitas intelektual.

Pandangan tersebut sejalan dengan apa yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Keluarga Gerilya. Ia mengingatkan bahwa titel akademik bukan tujuan manusia. Gelar hanyalah alat, sebagaimana pisau, mobil, atau cangkul, untuk memudahkan seseorang mencapai cita-cita yang lebih besar.

Pada akhirnya, masyarakat memang memerlukan doktor, profesor, insinyur, ekonom, ulama, maupun ilmuwan. Namun, yang lebih dibutuhkan adalah manusia yang menjadikan seluruh capaian akademiknya sebagai jalan pengabdian. Sebab sejarah tidak mencatat seseorang karena panjangnya gelar, melainkan karena luasnya manfaat yang ditinggalkan.

Mungkin di tengah budaya yang semakin memuja jabatan dan titel, pesan para kiai Gontor layak kembali kita renungkan: jangan bertanya, “Saya akan menjadi apa setelah memperoleh gelar?”, namun bertanyalah, “Dengan ilmu yang Allah titipkan melalui gelar ini, manfaat apa yang dapat saya berikan kepada agama, umat, bangsa, dan kemanusiaan?” Di sanalah letak kemuliaan ilmu yang sesungguhnya. []

Tags: Gelar akademikIjazahPondok Modern Darussalam Gontor
Share2Tweet1Send
Previous Post

Internalisasi Keimanan Anak Usia Sekolah Dasar: Sinergi Pembinaan Keluarga dan Lingkungan Sosial

Next Post

Menjaga Iman Anak di Tengah Gempuran Gawai

Mohamad Deny Irawan

Mohamad Deny Irawan

Reporter Media Online Gontornews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Santrivation: Teman Bertumbuh Para Santri Gapai Sukses di Kemudian Hari

Santrivation: Teman Bertumbuh Para Santri Gapai Sukses di Kemudian Hari

15 October 2026
Pondok Pesantren Syafa’atul Qur’an Jember Dorong Pemanfaatan Media Sosial

Pondok Pesantren Syafa’atul Qur’an Jember Dorong Pemanfaatan Media Sosial

12 October 2026
Gontor Putri Kampus 3 Karangbanyu Gelar Pelatihan Bahasa ‘Lingo Zone’

Gontor Putri Kampus 3 Karangbanyu Gelar Pelatihan Bahasa ‘Lingo Zone’

13 October 2026
DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

8 October 2026
Pondok Harus Berdiri Atas Dasar Keterpanggilan Hati

Pondok Harus Berdiri Atas Dasar Keterpanggilan Hati

12 October 2026
Gontor Maju Karena Keharmonisan & Ukhuwwah

Pesan Kiai Gontor tentang Jabatan dan Gelar (Akademik)

0
Mendesak Regulasi Pengatur Media Sosial

Menjaga Iman Anak di Tengah Gempuran Gawai

0
UNIDA Gontor Gelar Ramadhan Ceria di Dusun Ngetrep

Internalisasi Keimanan Anak Usia Sekolah Dasar: Sinergi Pembinaan Keluarga dan Lingkungan Sosial

0
Memaknai Musik dalam Pendidikan, Ustadz Husnan Bey Dukung TMF 2026

Memaknai Musik dalam Pendidikan, Ustadz Husnan Bey Dukung TMF 2026

0
Kursus Mahir Lanjutan (KML) Resmi Dibuka Gontor Putri 3

Kursus Mahir Lanjutan (KML) Resmi Dibuka Gontor Putri 3

0
Mendesak Regulasi Pengatur Media Sosial

Menjaga Iman Anak di Tengah Gempuran Gawai

16 October 2026
Gontor Maju Karena Keharmonisan & Ukhuwwah

Pesan Kiai Gontor tentang Jabatan dan Gelar (Akademik)

16 October 2026
UNIDA Gontor Gelar Ramadhan Ceria di Dusun Ngetrep

Internalisasi Keimanan Anak Usia Sekolah Dasar: Sinergi Pembinaan Keluarga dan Lingkungan Sosial

16 October 2026
Kursus Mahir Lanjutan (KML) Resmi Dibuka Gontor Putri 3

Kursus Mahir Lanjutan (KML) Resmi Dibuka Gontor Putri 3

15 October 2026
Memaknai Musik dalam Pendidikan, Ustadz Husnan Bey Dukung TMF 2026

Memaknai Musik dalam Pendidikan, Ustadz Husnan Bey Dukung TMF 2026

15 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result