Jakarta, Gontornews – Sebuah penelitian yang diterbitkan Partners Universal International Journal (PUIIJ) berhasil mengungkap dampak penggunaan kecerdasan buatan (Artificial intelligence/AI) terhadap lingkungan. Secara khusus, penelitian ini berfokus kebutuhan konsumsi air yang digunakan oleh ChatGPT.
Sebagai informasi, pengoperasian kecerdasan buatan sangat membutuhkan air dalam jumlah besar. Ketersediaan benda cair tersebut diperlukan sebagai sistem pendingin pusat data (data center), pembuatan perangkat keras hingga produksi listrik pendukung operasional.
Penelitian ini bertujuan mengkaji kebutuhan jumlah konsumsi air pada operasional AI serta dampaknya terhadap lingkungan. Penelitian ini juga berupaya untuk mengurangi penggunaan air agar pengembangan teknologi kecerdasan buatan menjadi lebih berkelanjutan (Suistainable).
Dalam prosesnya, penelitan ini menggunakan hasil wawancara dengan pakar kecerdasan buatan serta analisis data konsumsi air yang diperlukan oleh ChatGPT.
“Dokumen ini menekankan pentingnya menyadari penggunaan air yang diakibatkan oleh alat kecerdasan buatan serta memberikan rincian penting tentang solusi potensial untuk meminimalisir dampak lingkungannya,” ungkap penelitian berjudul The Environmental Impact of AI: A Case Study of Water Consumption by ChatGpt.
Penelitian yang ditulis oleh A Shaji George dkk itu mencatat untuk setiap 20-50 pertanyaan di ChatGpt membutuhkan setidaknya 500 ml air. Konsumsi air ini muncul seiring kebutuhan untuk proses pendinginan pusat data, produksi energi hingga perangkat keras.
“Walaupun penggunaan airnya relative kecil ketimbang sektor pertanian dan energi, dampaknya tetap perlu diperhatikan, terkhusus wilayah dengan kelangkaan air,” sambung penelitian yang terbit pada Maret-April 2023 itu.
Di akhir penelitian, A Shaji George menggarisbawahi problem lingkungan dibalik penggunaan air pada teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGpt. Secara khusus, peneliti mendorong untuk penghematan energi dan air, pengelolaan teknologi yang berkelanjutan hingga penelitian lanjutan.
“Penerapan solusi dapat membutuhkan biaya yang besar dan proses khusus. Karenanya, transparansi data dan kerjasama anta industri, pemerintah, pekerja, masyarakat sangat diperlukan,” pungkas penelitian 14 halaman tersebut. [Rayhana Camila/Mohamad Deny Irawan]






















