Jakarta, Gontornews – Tanaman akar kucing atau Acalypha Indica L rupanya memiliki dampak kesehatan yang masif bagi manusia, khususnya bagi para penderita diabetes. Tanaman tropis ini rupanya memiliki manfaat sebagai obat sambelit, penurun gula dara serta obat untuk mengatasi cacing parasit.
Penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Ethnopharmacology tersebut secara khusus mengkaji dampak ekstrak tanaman akar kucing terhadap cacing Pheretima posthuma. Menurut penelitian tersebut, ekstra akar kucing sebanyak 50 mg memiliki efek mematikan terhadap cacaing tersebut. Namun, para peneliti masih mengkaji efektivitas ekstrak akar kuncing secara lebih lanjut seiring dengan kemunculan perbedaan hasil riset.
Penelitian yang disusun oleh Nor Syahiran Zahidin dkk dari University Teknologi Malaysia ini menjelaskan pengobatan akar kucing biasanya digunakan dengan beberapa cara, salah satunya dengan membuat cairan infus atau rebusan.
Bagi masyarakat Malaysia, tanaman air rebusan akar kucing bermanfaat untuk melancarkan buang air besar. Sementara bagi masyarakat India, ekstrak akar kucing bermanfaat untuk menurunkan kadar gua dalam darah.
Dalam prosesnya, peneliti menggunakan tikus sebagai objek penelitian. Hasil penelitian laboratorium meunjukkan ekstrak akar kucing mampu melindungi sel saraf hipokampus seekor tikus saat mereka kekurangan oksigen atau hipoksia.
“Hasilnya menunjukkan peningkatakan viabilias (kemungkinan untuk hidup) sel safar hingga 350 persen dibanding mereka yang tidak mengonsumsi,” ungkap Nor Syahiran dkk dalam penelitian berjudul A Review Acalypha indica L (euphorbiaceae) as traditional medicinal plant and its therapeutic potential tersebut.
Nor Syahiran dkk menyimpulkan bahwa tanaman akar kucing memiliki potensi farmokologis yang sangat menjanjikan. Namun, penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanan penggunaannya bagi manusia. Tidak hanya itu, penelitian ini juga berhasil mengungkap kandungan senyawa glikosida sianogenik yang sangat beracun bagi manusia.
“Oleh karena itu penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi senyawa aktif guna menentukan dosis aman, memahami mekanisme kerja serta efek samping tanaman ini sebelum dikembangkan menjadi pengobatan terstandar,” tutupnya. [Rayhana Camila/Mohamad Deny Irawan]






















