Ponorogo, Gontornews — Pondok Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo, Kamis (15/10/2026), menggelar bedah buku ‘Ayat-Ayat Cinta 3’ dengan mengundang penulisnya, Habiburrahman El Shirazy. Pengasuh Pesantren Darul Falah Sukorejo, Ustadz Reza Arif Ahmadi, mengungkapkan agenda ini dihelat sebagai ikhtiar pondok untuk membangun tradisi literasi di kalangan santri.
Ustadz Reza Arif Ahmadi menambahkan, pola pendidikan asrama di pesantren 24 jam mengharuskan para santri belajar di dalam dan di luar kelas. Karenanya, kegiatan-kegiatan keorganisasian, membaca, diskusi, pidato, berbahasa dan kedisiplinan telah menjadi sarana pembentuk kepribadian santri.
“Santri harus memiliki ibadah dan akhlak yang baik. Tetapi mereka juga perlu menjadi pembaca dan pembelajar. Dengan membaca, wawasan mereka terbuka. Dengan berdiskusi, mereka belajar menyampaikan pandangan,” kata Ustadz Reza dalam rilis yang diterima Gontornews.com.
Kang Abik dan Cinta dari Gaza
Kehadiran Habiburrahman El Shirazy memberikan pengalaman berbeda kepada para santri. Buku yang biasanya hadir sebagai teks kini bertemu langsung dengan sosok yang melahirkannya. Santri dapat melihat bahwa sebuah karya bukan muncul secara instan.
Di balik buku ada proses membaca, mengamati, memikirkan, menulis, memperbaiki, dan bertanggung jawab atas gagasan yang disampaikan. Proses tersebut memiliki relevansi besar bagi generasi saat ini.
Artificial intelligence mampu menghasilkan teks dalam hitungan detik. Mesin dapat merangkum buku, membuat cerita, dan memberikan jawaban. Namun kemampuan menghasilkan teks bukan berarti memiliki kedalaman pemikiran. Santri tetap membutuhkan kemampuan membaca, menganalisis, menimbang informasi, dan membangun argumentasi.
Subjudul Cintaku di Gaza juga membuka pembicaraan mengenai persoalan kemanusiaan. Dalam pendidikan pesantren, kepedulian terhadap manusia merupakan bagian dari akhlak. Sastra dapat membantu menumbuhkan kepedulian tersebut karena ia tidak hanya menjelaskan sebuah peristiwa melalui fakta, tetapi juga mempertemukan pembaca dengan pengalaman manusia di dalamnya.
Melalui cerita, pembaca dapat memahami arti kehilangan, pengorbanan, cinta, keteguhan, serta harapan. Karena itu, kegiatan literasi tidak hanya bertujuan membuat santri menjadi lebih pintar. Literasi juga dapat membuat hati seseorang lebih peka. [Mohamad Deny Irawan]






















