Jakarta, Gontornews — Menerapkan pola pengasuhan (parenting) berbasis nilai-nilai Islam atau parenting sunnah di rumah seringkali disalahartikan sebagai upaya mendisiplinkan anak secara keras agar rajin beribadah. Padahal, kunci utamanya terletak pada bagaimana orang tua menghadirkan suasana rumah yang penuh kasih sayang serta membangun kedekatan emosional (secure attachment) terlebih dahulu.
Penulis dan praktisi Psikologi Islam, Ummu Balqis, dalam siniar (podcast) di kanal YouTube Nikita Willy Official mengatakan sebelum menuntut anak untuk patuh terhadap aturan agama seperti rajin salat atau menutup aurat, orang tua harus menjadi pihak pertama yang belajar dan mencotohkan nilai-nilai tersebut secara konsisten.
“Anak-anak belajar melalui observasi (learning by observer). Mereka belum sepenuhnya paham konsep abstrak tentang kasih sayang Allah di usia dini, tetapi mereka bisa merasakan kenyamanan, keadilan, dan kejujuran dari apa yang dilihat dan dirasakan di dalam rumah” ujar Ummu Balqis.
Ia menambahkan, rumah harus dijadikan tempat ternyaman bagi jiwa anak sebagai madrasah pertama. Ketika anak-anak melihat orang tuanya melaksanakan ibadah dengan tenang, penuh kehangatan, dan tidak menjadikan aturan agama sebagai sumber ketakutan, maka kecintaan kepada agama akan tumbuh secara intrinsik dari dalam diri anak.
Dalam mendidik anak untuk beribadah seperti salat, Islam telah memberikan panduan tahap demi tahap. Pada usia 0 hingga 7 tahun, fokus utamanya pembiasaan dan pengenalan suasana ibadah yang menyenangkan. Memasuki usia 7 hingga 10 tahun, anak mulai diperkenalkan lebih mendalam mengenai alasan mendasar (why) mengapa mereka harus beribadah kepada Allah.
Sementara itu, tindakan disiplin atau konsekuensi baru dapat diberikan secara bijak ketika anak menginjak usia 10 tahun, tentu dengan tetap menjaga kelembutan dan tidak merusak identitas diri anak.
Kisah dan panduan tersebut mengingatkan para orang tua agar tidak pernah menyerah dalam mendidik buah hati. Selain terus membekali diri dengan ilmu pengasuhan yang benar, doa dan kepasrahan kepada Allah SWT menjadi benteng utama dalam menjaga hati anak-anak di tengah tantangan zaman digital saat ini. [Ika]






















