Malang, Gontornews — Sebanyak 33 mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor), mengunjungi Kampoeng Qur’an Wijaya Kusuma (KQWK) Malang. Kegiatan yang berlangsung Selasa (20/10/2026) tersebut bertujuan untuk mempelajari pengelolaan pendidikan Al-Qur’an berbasis masyarakat yang diperkenalkan Kampoeng Qur’an.
Selain itu, para peserta Studi Akademik IQT UNIDA Gontor juga mempelajari tentang penyelenggaraan pendidikan melalui satu lembaga. Mereka juga diajak memahami tentang sinergi warga dalam membangun budaya belajar, membaca, dan menghafal Al-Qur’an di sebuah kampung.
Dosen Pembimbing Studi Akademik IQT UNIDA Gontor, Dr Rochmad menyampaikan harapan agar kunjungan tersebut dapat menumbuhkan semangat mahasiswi untuk mengajarkan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
“Saya berharap kunjungan ini dapat memotivasi mahasiswi untuk mengajarkan Al-Qur’an di lingkungan masyarakat, hingga mungkin, dari mereka ada yang bermimpi untuk membangun kampung yang penuh dengan barakah Qur’an seperti di sini,” katanya dalam rilis yang diterima Gontornews.com.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua Kampoeng Qur’an Wijaya Kusuma Dr HM Burhan MM., berkenan menyambut rombongan di Masjid Kampoeng Qur’an. Kegiatan berlanjut dengan pemaparan mengenai sejarah berdirinya Kampoeng Qur’an, gerakan, visi, serta program pendidikan Al-Qur’an yang dijalankan oleh masyarakat setempat.
Dalam pemaparannya, Ustadz Burhan, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa tumbuhnya gerakan tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai unsur masyarakat dan pemerintah. “Awal dicetuskannya program ini mendapat respons yang sangat baik dari ketua RT dan RW, didukung dengan warga yang juga sangat termotivasi dengan ide Gerakan Kampung Qur’an ini. Tapi tentu, gerakan ini juga tidak akan bisa berjalan tanpa dukungan penuh pemerintah,” papar Ustadz Burhan.
Sebagai informasi, Kampoeng Qur’an Wijaya Kusuma mulai dirintis pada 27 Maret 2022 melalui kegiatan pondok akhir pekan di lingkungan RW 06 Wijaya Kusuma. Gerakan ini kemudian dikukuhkan pada 21 Agustus 2022 oleh Wali Kota Malang, dengan harapan agar Kota Malang menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Sejak awal, kegiatan tersebut diarahkan untuk memberantas buta aksara Al-Qur’an di kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia. Dalam jangka panjang, KQWK juga bercita-cita mewujudkan program satu rumah satu penghafal Al-Qur’an.
Salah satu hal yang menarik perhatian peserta ialah keterlibatan aktif warga dalam mendukung kegiatan pembelajaran. Masjid dan rumah-rumah warga dimanfaatkan sebagai ruang belajar, sehingga pendidikan Al-Qur’an dapat berlangsung lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa upaya membumikan Al-Qur’an tidak selalu harus bertumpu pada satu lembaga atau bangunan khusus, tetapi dapat tumbuh melalui inisiatif dan kebersamaan warga. “Bahkan banyak warga yang menawarkan rumahnya ditempati untuk belajar Al-Qur’an,” tambah Burhan.
Partisipasi tersebut menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an berbasis masyarakat. Tidak hanya tentang tersedianya ruang belajar, keberlanjutan gerakan juga bergantung pada kemampuan masyarakat dalam merawat inisiatif bersama dan menyesuaikannya dengan kebutuhan yang terus berkembang.
“Oleh karena itu, pelajaran dari Kampoeng Qur’an tidak berhenti pada banyaknya ruang belajar yang tersedia. Yang lebih penting bagaimana prakarsa warga dapat dirawat menjadi tradisi belajar yang berkelanjutan, terbuka terhadap perbaikan, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan masyarakat,” tutup Nindhya, salah seorang dosen Pembimbing IQT UNIDA Gontor. [Mohamad Deny Irawan]
























