Surakarta, Gontornews –- Pernyataan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M Natsir yang menyebut bahwa mata kuliah Agama sebagai penyebab radikalisme dan ekstrimisme dikritik sejumlah pihak. Muhammadiyah misalnya menyebut bahwa mata kuliah agama tetap diperlukan.
“Pendidikan agama di pendidikan tinggi itu penting, seharusnya tidak boleh mengatakan bahwa adanya mata kuliah agama itu akan menjadi sarang radikalisme, itu tidak tepat,” Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Busyro Muqoddas sebagaimana dilansir muhammadiyah.or.id, Selasa (20/6).
Busyro Muqoddas menambahkan bahwa mata kuliah agama memiliki peran penting dalam sistem pendidikan tinggi, karena menjadi salah satu asupan untuk membentuk pribadi mahasiswa yang berakhlak baik.
“Pendidikan agama di pendidikan tinggi itu penting, seharusnya tidak boleh mengatakan bahwa adanya mata kuliah agama itu akan menjadi sarang radikalisme, itu tidak tepat,” tegas Busyro.
Menurut Busyro, seharusnya pihak yang mengatakan bahwa adanya mata kuliah agama di pendidikan tinggi dapat menimbulkan sarang agama itu terlebih dahulu harus mengevaluasi sistem pendidikan tinggi tersebut, sebelum mengklaim sesuatu dengan pernyataan yang tidak tepat.
“Pentingnya agama di sistem pendidikan adalah bagian dari konsep pancasila, di mana sila pertama yang menyoal tentang agama. Sehingga agama itu penting, agar terciptanya generasi yang berintelektual tinggi namun pengetahuan agamanya tidak tandus dan kering,” pungkas Busyro.
Sebelumnya, Menristekdikti, M Natsir memerintahkan kepada seluruh rektor di seluruh Indonesia agar memindahkan MK Agama dari semester 1 ke semester 7. Hal ini dilakukan untuk menekan tindakan radikalisme dan ekstrimisme di perguruan tinggi.
“Saya akan perintahkan para rektor mata kuliah umum (MKU) Pendidikan Agama jangan ditawarkan di semester satu, tapi di semester tujuh, agar tercipta kristalisasi pengetahuan yang dimiliki akan lebih baik lagi, agar anak-anak mahasiswa fokus dulu di bidang pengetahuan dan teknologi, di akhir pengendapan dengan pendidikan agama, nanti saya akan minta bantuan Polri agar mahasiswa juga tidak terjebak dalam Radikalisme,” ujar Nasir saat menghadiri deklarasi Konsorsium PTN Kawasan Timur Indonesia Menolak Paham Radikalisme di Universitas Hasanuddin, Makassar, Jumat (16/6). [Mohamad Deny Irawan]

















