Jakarta, Gontornews – Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo berpandangan, pemimpin yang baik lahir dari rakyat. Bukan besar dan dilahirkan media sosial. Problem Jakarta akan sulit dituntaskan oleh branding medsos.
Bupati Batang hadir sebagai pembicara diskusi dengan tema kepemimpinan daerah menuju DKI-1 di di Sofyan Hotel Betawi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (21/8). Di forum ini. Yoyok berkisah tentang perjalanannya hingga menjadi Bupati Batang hingga persoalan pembangunan di Jakarta.
“Dulu saya di Danrem Tanjung Priok. Dulu jadi perwira program intelijen. Jadi membawahi intel di Jakarta dan sekitarnya. Kemudian saya di Papua, di sana selain tentara juga berbisnis. Setelah itu saya pensiun mayor. Saat saya menjadi bupati, dulu saya belajar ke Bu Risma, ke Pak Jokowi (saat Wali Kota Solo). Saya ke sana kemari bawa flashdisk,” jelasnya.
Terkait soal pembangunan di Jakarta, menurut Yoyok, memimpin Ibu Kota ini bukan hal yang ringan bagi pemimpin hasil branding yang dibesarkan oleh media sosial.
“Memimpin Jakarta tentu berat. Apalagi oleh pemimpin hasil branding. Pemimpin Jakarta harus diharapkan rakyat Jakarta. Bukan (pemimpin) dari media sosial, branding, dan lain-lain. Jakarta adalah kaca untuk republik ini,” ungkap Yoyok.
Namun, bagi pemimpin yang lahir dari rakyat, kata Yoyok, membangun Jakarta bukan hal yang sulit. “Jakarta apa yang kurang. Punya duit, APBD Rp 77 triliun. Apanya yang susah? Nggak ada. Orang sudah ada ahlinya. Banyak ahli, banyak duit,” papar pria 44 tahun itu.
Jadi siapkah Yoyok maju Pilgub DKI? “Saya konsentrasi pada sumpah saya (memimpin) di Batang yang (tersisa) enam bulan lagi. Untuk selanjutnya 99 persen saya dagang. Kalau saya melanjutkan untuk memimpin di tempat lain, saya siap,” kata Yoyok.
Yang pasti, Yoyok mengaku hingga kini belum ada kesepakatan apa pun dengan partai pemilik kursi di DPRD DKI Jakarta. Dia hanya mengaku baru bertemu dengan petinggi Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra. [Dedi Junaedi]

















