Rikuzentakata, Gontornews — Tujuh tahun sudah sebuah gempa besar yang disusul tsunami melanda Jepang. Saat itu nelayan tiram Jepang Atsushi Fujita bekerja di laut ketika sebuah gelombang hitam besar menerjang kotanya dan membunuh hampir 2.000 orang.
Sekarang ini, Fujita dan ribuan orang sepertinya di sepanjang pantai timur laut Jepang telah membangun kembali kehidupan mereka di sepanjang dinding laut (seawall) yang besar, dan menurut para ahli akan melindungi mereka jika ada tsunami raksasa yang datang kembali.
Seawall yang merupakan dinding beton setinggi 12,5 meter (41 kaki) yang dibangun dengan biaya 1,35 triliun yen (US$ 12,74 miliar) dianggap oleh sebagian orang Jepang adalah hal buruk. Ada yang mengatakan bahwa mereka tidak cukup berkonsultasi dalam tahap perencanaan atau bahwa uang yang dihabiskan untuk pembangunan dinding tersebut akan berdampak pada pembangunan lainnya seperti perumahan dan lain-lain.
“Rasanya seperti kita dipenjara, meski kita belum melakukan sesuatu yang buruk,” kata Fujita (52) seperti yang dikutip Reuters.
Dan sebagian lainnya menganggap seawall sebagai kekhawatiran yang dapat merusak pariwisata di wilayah tersebut. Bagian dari tembok di kota Kesennuma tersebut lebih jauh ke selatan dan memiliki jendela di dalamnya, akan tetapi hal itu tidak menjadi daya tarik para wisatawan.
“Sekitar 50 tahun yang lalu, kami datang ke sini bersama anak-anak dan menikmati perjalanan menyusuri samudera dan teluk yang indah,” kata Reiko Iijima, seorang turis dari Jepang tengah, yang sedang makan di restoran tiram di seberang tembok laut.
Sementara itu, peneliti di Port and Airport Research Institute di Yokosuka, Hiroyasu Kawai memandang positif pembangunan seawall. Menurutnya seawall akan sanggup menghentikan tsunami dan mencegahnya untuk membanjiri daratan.
“Bahkan jika tsunami lebih besar dari dinding, dinding akan menunda banjir dan menjamin lebih banyak waktu untuk evakuasi,” katanya. [Devi Lusianawati]


















