Lombok, Gontornews – Ketua umum Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Mohammad Siddik mengungkapkan bahwa model dakwah yang diterapkan DDII adalah dakwah bil hal (dakwah dengan perilaku), membina dan membela serta dakwah melalui ucapan dan tulisan. Pernyataan ini disampaikan disela-sela kunjungan Ustadz Siddik dalam rangka meninjau dan menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (18/8).
“Dewan Da’wah sejak dulu mengembangkan dakwah bil hal (dakwah dengan perilaku) dengan konsep bina’an wa difa’an (membina dan membela), selain dakwah bil lisan (dengan ucapan) dan bil kitabah (tulisan),” ujar Ustadz Siddik dalam rilis yang diterima Gontornews.
Lebih lanjut, menurut Ustadz Siddik, para Da’i ini akan memotivasi masyarakat guna meningkatkan aspek spiritualitas. Hal ini perlu dilakukan karena hanya dengan kekayaan spiritual mereka dapat bangkit untuk menghadapi ujian situasi yang sulit pasca gempa.
“Tokoh daerah, aparat desa seperti Babinsa maupun aghniya (para da’i) segera ditemui para da’i yang bertugas agar tidak menimbulkan resistensi. Jangan sampai masyarakat tidak tahu keberadaan da’i,” harapnya.
Siddik menyayangkan, pasca reformasi tahun 1998 gerakan dakwah mulai ditinggalkan perlahan demi perlahan. Masyarakat lebih suka kepada politik, padahal, kata dia, dakwah merupakan bagian dari politik.
Karena itu, Dewan Da’wah secara intens melakukan pengkaderan da’i melalui Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir (STID Moh Natsir) dan Akademi Dakwah Indonesia (ADI) di 18 provinsi sebagai feeder putra daerah untuk melanjutkan ke jenjang Strata-1 (S1) dan bekal mengabdi di daerah asalnya.
“Jika dulu pengkaderan dilakukan melalui LPDI (lembaga pengembangan dakwah Islam). Sekarang melalui STID dan ADI. Selain dibekali metode ceramah ataupun berkhutbah, para da’i diberikan pelatihan tentang pertanian, kelautan dan bagaimana membudidayakan potensi sekirar tempat dia bertugas,” ungkapnya.
Selain itu, kata Siddik, mayoritas masyarakat tidak memahami secara utuh mengenai konsepsi syariah. Padahal, syariah merupakan nilai internal dan universal. Mulai dari urusan pribadi, masyarakat, negara bahkan dunia secara global.
“Saya ingin di dalam penyampaian (dakwah) nanti di masyarakat, hal-hal seperti ini disampaikan. Agar umat Islam tidak phobia terhadap keislamannya,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]


















