Cox’s Bazar, Gontornews — Sebuah lembaga kemanusiaan Turki pada hari Ahad (26/8) membagikan daging kurban kepada para pengungsi Rohingya di Bangladesh. Demikian dijelaskan kantor berita Anadolu pada Ahad (26/8).
Diwartakan Anadolu, lebih dari 5.000 keluarga menerima paket daging dan makanan di sebuah upacara yang diadakan di kamp Burmapara di kota Cox’s Bazar.
Turkish Red Crescent Society (Kizilay) berencana untuk menjangkau 70.000 pengungsi dan penduduk lokal pada akhir pekan ini.
Cahit Sami Gun, Manajer Operasi Kizilay di Bangladesh, mengatakan karena sangat jauh dari rumah, orang-orang terlantar dari Myanmar ini kehilangan untuk merayakan hari rayanya.
“Itulah mengapa kami mengorbankan hewan untuk satu perkemahan untuk pertama kalinya di Bangladesh,” jelasnya.
Dia mengatakan stafnya bekerja siang dan malam untuk mendistribusikan daging untuk membuat senyum di wajah masyarakat yang rentan.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA) seperti dilansir Anadolu Agency, pada 25 Agustus 2017 lalu, Myanmar melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap minoritas etnis Muslim yang menewaskan hampir 24.000 warga sipil dan memaksa 750.000 orang lainnya melarikan diri ke Bangladesh.
Dalam laporannya baru-baru ini, Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira, OIDA meningkatkan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh menjadi 23.962 (± 881) dari angka Dokter Tanpa Batas sebelumnya sebesar 9.400.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dilemparkan ke dalam api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli.
Selain itu, kata laporan OIDA, 17.718 (± 780) wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Bukan hanya itu, lebih dari 115.000 rumah-rumah Rohingya juga dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat karena puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal yang dilakukan oleh pasukan Myanmar.
Dalam laporannya, para penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. [Muhammad Khaerul Muttaqien]

















