Jakarta, Gontornews — Miris dan sungguh ironis. Sementara jumlah korban pemilu terus berjatuhan (terkini dilaporkan 622 gugur), dokter Ani Hasibuan yang berusaha kritis dan prihatin dengan banyaknya korban malah dipolisikan.
Empatinya direspon negatif. Sikap kritis dicurigai menyebar kebencian dan membuat kegaduhan. Dr Ani yang telah puluhan tahun mengabdi demi kemanusiaan dan kesehatan masyarakat malah dipolisikan. Innalillahi…astaghfirullah.. keadilan macam apa yang hendak dibangun di negara ini?
Ongku Hasibuan, alumni elektro ITB ’77 dan mantan Bupati Tapsel bersaksi: “Rekan-rekan ITB, akhirnya adik saya Dr. Ani Hasibuan dipanggil polisi. Saya duga atas laporan Jangkar Jokowi. Meski kami yakin tidak ada masalah hukum yang memberatkan — karena dasarnya sepertinya adalah talkshow dia di TV One bersama Rocky Gerung, Haris Azhar, Putu, dan Adian Napitupulu beberapa hari yang lalu terkait kematian 500-an KPPS, namun kami agak khawatir dengan keselamatan fisiknya oleh ulah orang-orang01.”
Untuk itu mohon do’a restu dan dukungan moril dari kawan-kawan terhadap adik kami. Terema kasih. Mohon bantuan memviralkan agar masyarakat luas tahu kedzoliman yang berlebihan rezim ini,” ungkap Ongku Hasibuan di laman medsosnya.
Seperti diketahui, Dr. Ani Hasibuan dan banyak dokter sejawatnya (video pernyataan para dokter sudah viral juga), bersikeras agar mayat hampir 600 orang petugas KPPS, Saksi Pemilu itu, diautopsi. Mereka mengatakan, tak ada kematian akibat kelelahan. Ini didukung Muhammadiyah dan banyak pihak. Muhammadiyah bahkan menyediakan 103 rumah sakit jaringan Muhammadiyah. “Namun beliau malahan dilaporkan relawan Jokowi ke kepolisian atas dugaan penipuan. Dan menteri kesehatan, rupanya tak mau. Hmmmmm?” Komentar netizen.[DJ]


















