Moskow, Gontornews — Kementerian Luar Negeri Rusia pada hari Senin (30/12) mengatakan, “pertukaran serangan” antara Hizbullah dan pasukan AS di Irak sebagai “tidak dapat diterima.” Rusia menyerukan kepada kedua belah pihak untuk menahan diri.
“Kami menganggap tindakan seperti itu tidak dapat diterima dan kontraproduktif. Kami menyerukan semua pihak untuk menahan diri dari tindakan lebih lanjut yang dapat secara tajam mengacaukan situasi militer-politik di Irak, Suriah, dan negara-negara tetangga,” kata pernyataan kementerian itu sebagaimana dikutip Aljazeera.
Rusia adalah pendukung utama Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Seperti dirilis Aljazeera, Amerika Serikat telah melakukan serangan terhadap kelompok bersenjata Syiah Kataib Hezbollah di Irak dan Suriah, menewaskan sedikitnya 25 pejuang, Ahad (29/12).
Washington mengatakan pihaknya menargetkan kelompok yang memiliki hubungan dengan Iran di Irak barat dan Suriah timur dalam menanggapi pembunuhan seorang kontraktor sipil AS dua hari sebelumnya.
Sumber-sumber keamanan dan milisi Irak mengatakan sedikitnya 55 pejuang terluka dalam serangan udara itu, dan menambahkan bahwa salah satu serangan telah menargetkan markas besar kelompok itu di dekat distrik al-Qaim barat di perbatasan dengan Suriah.
Ketegangan AS-Iran telah meningkat sejak Washington menarik diri dari perjanjian nuklir penting dengan Teheran tahun lalu dan mulai menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan.
Kepala juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa target – tiga di Irak dan dua di Suriah – termasuk fasilitas penyimpanan senjata dan markas komando yang digunakan untuk merencanakan dan melaksanakan serangan.
Serangan AS itu semakin memicu ketegangan antara Washington dan Teheran. [RM]


















