Yogyakarta, Gontornews — Academic Tour yang berlangsung pada Senin sampai Rabu, 19–21 Oktober 2026 oleh mahasiswa semester dua Kelas B Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor telah dimulai. Didampingi Ustadz Assoc Prof Harda Armayanto MA PhD dan Ustadzah Maria Ulfa MFilI, kesembilan belas mahasiswa ini pun menyambut hangat kegiatan menarik tersebut.
Ustadzah Maria Ulfa menuturkan bahwa menjadi pendamping dalam kegiatan Sekolah Calon Ayah yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumpun Nurani merupakan pengalaman pembelajaran yang reflektif dan bermakna. “Terutama untuk memperdalam pemahaman tentang peran strategis ayah dalam menentukan fungsi, arah, dan tujuan institusi sosial terkecil bernama keluarga,” ungkapnya kepada Gontornews.com Rabu (21/10/2026).
Dilaksanakan di Yayasan Rumpun Nurani, Yogyakarta, Program Sekolah Calon Ayah itu juga memadukan One Day Workshop di Kolektif Coworking Space & Collaboraction dan Spiritual Camp di Bumi Perkemahan Gondang 2 Indah, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Rangkaian One Day Workshop terdiri atas tiga lokakarya. Sesi pertama, True Self, mengajak mahasiswa mengenali karakter, potensi, dan nilai-nilai yang mereka yakini. Peserta mendapat kesempatan untuk memahami kekuatan yang dapat dikembangkan serta hal-hal dalam dirinya yang masih perlu diperbaiki.
Pengenalan diri ini juga membuka ruang perenungan tentang siapa diri mereka, apa yang dianggap berharga, dan bagaimana mereka ingin menjalani kehidupan. Pertanyaan tersebut dekat dengan kajian filsafat yang mengajak manusia memeriksa dasar pemikiran dan pilihan hidupnya.
Setelah mengenali diri, mahasiswa mengikuti sesi Create Vision Board. Dalam sesi ini, mereka belajar menuangkan cita-cita menjadi gambaran masa depan yang lebih jelas, menetapkan tujuan, dan menyusun langkah untuk mencapainya. Peserta diajak memikirkan alasan di balik tujuan yang dipilih serta tanggung jawab yang menyertainya.
Adapun sesi Managing Conflict membekali mahasiswa dengan kemampuan menghadapi perbedaan. Mereka diajak mengenali cara merespons konflik, berlatih menyampaikan pendapat, dan memahami sudut pandang orang lain. Melalui latihan ini, peserta belajar bahwa penyelesaian persoalan membutuhkan pertimbangan yang matang, komunikasi yang baik, dan kesediaan untuk saling mendengarkan.
Keterampilan tersebut penting bagi calon pemimpin keluarga dan masyarakat. Dalam menghadapi persoalan, seseorang perlu mampu menimbang baik buruk suatu tindakan serta memahami akibat keputusannya bagi orang lain. Di sinilah pembahasan etika menemukan kaitannya dengan pengalaman sehari-hari.
Suasana lokakarya terasa hidup karena mahasiswa terlibat langsung dalam percakapan dan diskusi. Mereka berbagi persoalan yang dihadapi, mengungkapkan harapan, serta membicarakan langkah untuk meraih cita-cita. Kesempatan untuk berbicara dan mendengarkan pengalaman sesama peserta membuat materi terasa dekat dengan kehidupan mereka.
Para pendamping dari Yayasan Rumpun Nurani antara lain Siti Alfiah Kusumawardani (Ketua Yayasan), Deri Rizki Anggarani (Sekretaris Yayasan), Rennta Chrisdiana (Ketua Tim Strategis Yayasan), dan beberapa anggota dari Rumpun Nurani lainnya.
Sementara itu, Spiritual Camp dirancang sebagai latihan menguatkan tawakal kepada Allah SWT, sekaligus menghadapi keterbatasan diri. Salah satu agendanya Solo Bivak, yakni menginap sendiri di alam dengan bivak yang ditempatkan terpisah, berjarak sekitar 50 meter satu sama lain. Selama sesi tersebut, peserta tidak diperkenankan berinteraksi dengan teman.
Kesendirian di alam menjadi kesempatan untuk bermuhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah . Bagi mahasiswa AFI, pengalaman ini dapat menjadi ruang untuk merenungkan hubungan antara pemahaman akidah dan sikap hidup: bagaimana manusia berusaha, menyadari keterbatasannya, dan bertawakal kepada Allah.
Melalui Academic Tour ini, mahasiswa AFI Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor diharapkan semakin mampu menghubungkan apa yang dipelajari di ruang kuliah dengan pilihan dan tindakan dalam kehidupan. Bekal menjadi ayah dan pemimpin mulai dibangun melalui kemampuan mengenali diri, mempertimbangkan baik buruk suatu tindakan, serta menjalankan tanggung jawab dengan landasan iman dan ilmu. [Edithya Miranti]

























