Ponorogo, Gontornews — Acara seminar pemikiran dan peradaban Islam yang diadakan oleh Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, bertujuan untuk meng-counter pemahaman dan isu kontemporer yang merusak aqidah umat Islam. Seperti liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan dekonstruksi terhadap syariah. Hal ini disampaikan oleh Mentor PKU, Al-Ustadz Hasbi ketika membuka acara seminar di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 2 Madusari, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (30/11).
“Diadakannya acara ini untuk memberikan wawasan kepada para mahasiswa guru terkait tantangan pemikiran kontemporer yang terjadi akhir-akhir ini khususnya di Indonesia,” papar Ustadz Hasbi.
Acara ini turut dihadiri oleh 3 PKU, peserta, dan seluruh mahasiswa guru Gontor Kampus 2. Pada seminar ini ada 3 utusan PKU Unida Gontor yang menjadi pembicara. Pertama, Muhammad Kholid dengan tema “Muhammad Syahrur dan Konsep Milk al-Yamin (Sebuah Tinjauan Kritis)”. Kedua, Fauzan Adzima dengan tema “Konsep Kafir dalam Tiga Agama Besar”. Ketiga, Ahmad Ilham Maulana “Khalafullah dan Kisah-kisah Al-Qur’an (Sebuah Tinjauan Kritis Kitab al-Fann al-Qashahsu fi al-Qur’an al-Karim”.
Dalam seminar ini bisa disimpulkan bahwa Syahrur telah menghalalkan zina, karena bangunan konsep milk al-yamin Syahrur menyerupai pemahaman zina dalam Islam, ada Inkonsistensi dalam menggunakan teori Hudud, konsep milk al-yamin Shahrur bertentangan dengan teori hudud yang kelima, Metodologi dan Epistemologi Syahrur berbeda dengan apa yang ada dalam khazanah keilmuwan Islam.
Berkaitan dengan konsep Kafir dalam Tiga Agama Besar bahwa Istilah kafir bukanlah istilah yang memiliki makna yang diskriminatif atau memecah belah umat, bahkan istilah ini adalah istilah yang toleran terhadap agama lain bila ditilik dari maknanya. Bila istilah ini direlatifkan, maka akan berimplikasi kepada hilangnya truth claim yang selama ini diyakini bahkan merupakan langkah awal dari pluralisme agama. Padahal, setiap agama memiliki konsep yang serupa seperti Islam, walaupun dalam istilah yang berbeda.
Lalu mengenai tema “Khalafullah dan Kisah-kisah Al-Qur’an (Sebuah Tinjauan Kritis Kitab al-Fann al-Qashahsu fi al-Qur’an al-Karim” yang dipaparkan oleh saudara Ahmad Ilham Maulana bisa ditarik benang merahnya bahwa Kefaktualan kisah Al-Qur’an bukan dihasilkan dari cara pandang empiris dan rasio saja, sehingga melupakan intuitif dan Wahyu. Karena Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang sebagai Wahyu harus diimani secara lahir dan bathin.
Pada hakikatnya seminar pemikiran dan peradaban Islam ini menjadi sebuah pembelajaran serta pengalaman yang berharga bagi peserta PKU UNIDA Gontor untuk mengasah wawasan keilmuwannya, khususnya mengenai isu-isu pemikiran kontemporer yang terjadi dewasa ini. Sehingga kedepannya, mereka dapat menjadi garda terdepan dalam memberantas paham-paham yang berusaha mengebiri nilai dan ajaran Islam. [Ach. Fuad Fahmi]




















