Jakarta, Gontornews — Kasus SARACEN bak bola salju menggelinding semakin besar tanpa diketahui secara jela apa isi di dalamnya.
Bahkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai kasus SARACEN hanyalah sekedar dagelan baru. Karena kalau menyangkut buzer-buzer pro istana tak ada tindakan.
Fadli Zon memberi contoh hingga sampai sekarang kasus Nathan P Suwanto yang telah dilaporkannya ke pihak Polri tak ada tindak lanjutnya. Bahkan pegiat sosmed penebar kebencian seperti Ulin Yusron malah diundang Istana, bukannya ditangkap.
Melalui kultwitnya, Fadli Zon meminta bahwa pengungkapan kasus Saracen, harus dilakukan terbuka dan tuntas, agar tak mengundang spekulasi dan fitnah.
“Kita mengapresiasi kerja kepolisian dalam pengungkapan kasus bisnis hoax dan isu-isu SARA,” tegasnya
Tak bisa disangkal, kata Fadlu, hal-hal semacam itulah yang selama ini telah membuat demokrasi kita jadi tidak sehat.
Wakil Ketua DPR itu berpendapat, meskipun polisi sejak awal mengekspose kasus Saracen sbg kasus besar terkait industri hoax dan penyebar kebencian di media sosial. Tapi, kasus Saracen ini merupakan kasus yang baru bergulir, sehingga masih panjang prosesnya.
Dia berharap agar dlm mnjalankan tugasnya Polri bekerja secara transparan n tuntas, agar tdk melahirkan spekulasi n fitnah di masyarakat.
Jika benar kelompok tersebut menjalankan bisnis jasa penyebaran hoax, kebencian, dan isu-isu terkait SARA, tentu harus segera ditindak tegas sesuai aturan yang berlaku, siapapun pemilik atau pengguna jasa bisnis tersebut.
Fadli meminta, Upaya penegakkan hukum yang tegas untuk mengatasinya dan tidak boleh ada tebang pilih di dalamnya.
Terkait dengan hal itu, dia mengkritik Presiden yang berkali-kali mengumpulkan buzzer-buzzer politik di Istana. Menurutnya, mengumpulkan para buzzer pendukung pemerintah adalah bentuk komunikasi politik yg bermasalah dari seorang kepala negara. “Kegiatan semacam itu sebaiknya disudahi, karena merusak wibawa negara & kontraproduktif dengan usaha Polri yang sedang membongkar mafia penyebar hoax,” ungkapnya.
Fadli menegaskan, tindakan Presiden yg sering mengundang buzzer ke Istana, memperkuat kesan jika pemerintah mnerapkan standar ganda dlm urusan ‘hoax’.[DJ]























