Jakarta, Gontornews – Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengunjungi Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Tangerang Selatan, Senin (5/10/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Studi Pengayaan Lapangan (SPL) bagi 28 mahasiswi IQT semester 6.
Kunjungan bertema ‘Mengkaji Pendekatan Tafsir Al-Qur’an Kontemporer dalam Menjawab Dinamika Persoalan Kehidupan Umat’ ini didampingi oleh sejumlah dosen IQT UNIDA Gontor seperti Ustadz Mahmud Rifanuddin, Sud., MAg., Ustadz Fahmi Akhyar Al Farabi, S,Ag M.Ag, dan Ustadzah Dr Nindhya Ayomi Delahara, S.Ag M.Pd. Adapun dari PSQ, hadir Dewan Pakar PSQ, Dr Ali Nurdin MA sebagai pembicara sekaligus pemateri.
Bertandang ke kantor PSQ Tangerang Selatan, mahasiswa IQT UNIDA Gontor mendapatkan pemaparan tentang perkembangan metodologi tafsir dan kebutuhan menghadirkan pendekatan yang mampu membaca teks Al-Qur’an sekaligus realitas kehidupan kontemporer.
Prof Dr Ali Nurdin memperkenalkan empat metode tafsir, yaitu tahlili, ijmali, muqaran, dan maudhu’i, beserta karakteristik dan penggunaannya. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan sumber dan corak tafsir serta sejumlah pendekatan kontemporer, seperti bayani, maqasidi, hermeneutika, feminis, gender, dan mubadalah.
“Pemilihan metode tafsir harus disesuaikan dengan kebutuhan ayat, tema, dan persoalan yang sedang dikaji. Tidak semua metode harus digunakan secara bersamaan, tetapi harus dipilih secara proporsional,” jelas Dr Ali Nurdin dalam rilis yang diterima gontornews.com.
Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, lingkungan, teknologi, kesehatan, dan kemanusiaan membutuhkan dialog antara kajian Al-Qur’an dengan berbagai disiplin ilmu.
“Tugas kita bukan hanya memahami Al-Qur’an, tetapi bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an itu dapat membumi di tengah masyarakat,” sambungnya.
Pada sesi tanya jawab, para peserta SPL UNIDA Gontor berdiskusi seputar tantangan penafsiran secara instan melalui teknologi digital di kalangan pemuda. Pemateri mendorong mahasiswa memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar tanpa meninggalkan proses membangun kapasitas keilmuan.
“Teknologi boleh membantu proses belajar, tetapi jangan sampai menggantikan proses belajar itu sendiri,” ucap dosen tetap Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta itu kepada para peserta.
Diskusi juga membahas prinsip Al-Qur’an ṣāliḥ li kulli zamān wa makān serta kemungkinan munculnya perbedaan pemahaman ayat antargenerasi. Perbedaan penafsiran dimungkinkan selama tetap berada dalam prinsip-prinsip agama dan tidak bertentangan dengan kaidah bahasa.
“Dari kunjungan ke PSQ Tangerang Selatan, kami menemukan bahwa kajian tentang tafsir kontemporer membutuhkan kemampuan membaca teks serta memahami khazanah tafsir,” ucap Selvea Sahila, mahasiwi IQT UNIDA Gontor semester 6.
“Selain itu, kajian itu juga perlu memperhatikan konteks, serta terus melakukan ‘dialog’ dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan realitas kehidupan,” imbuhnya.
“Bagi mahasiswa IQT, kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan wawasan metodologis dan budaya akademik agar mampu mengembangkan penelitian Al-Qur’an dan Tafsir yang tetap berakar pada tradisi keilmuan sekaligus responsif terhadap persoalan umat,” tutup Dosen IQT UNIDA Gontor, Fahmi Akhyar Al Farabi. [Mohamad Deny Irawan]
























