Setiap tanggal 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Bagi saya, momentum ini bukan sekadar kesempatan mengenang kehidupan di pesantren, tetapi juga waktu yang tepat untuk merefleksikan sejauh mana nilai-nilai kesantrian masih hidup dalam kehidupan kita setelah meninggalkan pondok.
Sebagai alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001, saya merasakan bahwa banyak nilai yang diperoleh selama menjadi santri ternyata tetap relevan dalam perjalanan profesional. Kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, tanggung jawab, dan kemampuan berkomunikasi menjadi bekal penting ketika saya berkecimpung di dunia pemasaran, pendidikan vokasi, hingga teknologi Artificial Intelligence (AI).
Pengalaman tersebut memperkuat keyakinan saya bahwa pendidikan pesantren tidak hanya mempersiapkan seseorang menjadi ustadz atau tokoh agama. Pesantren juga membentuk manusia yang mampu berkontribusi melalui berbagai profesi, selama nilai-nilai kepesantrenan tetap menjadi pedoman dalam kehidupannya.
Dari Nilai Pesantren Menuju Pengabdian
Dalam berbagai perjalanan profesional ke sejumlah daerah, saya sering berusaha menyempatkan diri berkunjung ke pesantren. Terkadang sekadar bersilaturahmi dengan pengasuh, berdiskusi mengenai pendidikan, atau berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para santri.
Bagi saya, kegiatan tersebut merupakan salah satu cara sederhana menjaga hubungan dengan dunia pesantren sekaligus mengamalkan nilai pengabdian yang pernah diajarkan selama menjalani pendidikan.
Saya percaya kontribusi alumni tidak harus selalu berupa bantuan finansial atau kembali menjadi pengajar di pondok. Berbagi keterampilan, membuka jejaring profesional, mendampingi kewirausahaan, dan memperkenalkan perkembangan teknologi juga merupakan bentuk pengabdian yang memiliki manfaat bagi generasi santri.
Santri dan Tantangan Era AI
Perkembangan teknologi, khususnya AI, menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan pesantren. Santri perlu memiliki kemampuan memahami perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan karakter yang dibentuk selama menjalani pendidikan.
Sebagai praktisi AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO), saya meyakini bahwa pesantren perlu semakin terbuka terhadap literasi digital dan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, kemampuan menggunakan teknologi harus tetap berjalan bersama pendidikan adab, kejujuran, amanah, dan tanggung jawab.
Santri boleh menguasai teknologi paling canggih, tetapi jangan sampai kehilangan adab dan nilai-nilai yang menjadi fondasi pendidikan pesantren.
Menjadi Santri Sepanjang Hayat
Hari Santri Nasional 2026 mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Menurut saya, tema tersebut merupakan pengingat bahwa alumni pesantren memiliki tanggung jawab untuk terus memberikan manfaat melalui profesi dan pengabdian masing-masing.
Kebanggaan menjadi alumni Gontor tentu memiliki makna tersendiri. Namun, kebanggaan itu seharusnya tidak berhenti pada nostalgia atau cerita tentang kebesaran almamater. Nilai-nilai yang pernah diajarkan para guru dan kiai harus tetap tercermin dalam sikap, pekerjaan, keluarga, dan kontribusi kita kepada masyarakat.
Pada akhirnya, menjadi santri bukan hanya pengalaman selama beberapa tahun tinggal di pondok. Menjadi santri merupakan komitmen untuk terus belajar, menjaga adab, dan memberikan manfaat sepanjang hayat.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Jangan hanya bangga pernah menjadi santri. Buktikan bahwa nilai-nilai kesantrian masih hidup dan memberi manfaat sampai hari ini. []























