Jakarta, Gontornews — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengapresiasi Aksi Damai 411 sebagai ekspresi memperjuangkan keadilan. Sayang pemerintah lamban melakukan komunikasi dengan rakyat.
Usai menerima kunjungan Presiden Jokowi, Ketua Tanfidziah PBNU KH Said Aqil Siroj
membacakan pernyataan pers. PBNU mengingatkan agar pemimpin menjaga lisannya.
KH Said Aqil Siroj menegaskan, pemimpin tidak boleh berkata kotor, apalagi menyinggung dan melahirkan perpecahan. NU minta pemerintah melakukan komunikasi intensif dengan tokoh-tokoh agama untuk menjaga kondusivitas persaudaraan dan keutuhan bangsa.
Terkait kasus yang dipersoalkan para pendemo 4 Novermber lalu, kata Said, dia mempercayakannya kepada penegak hukum. Menurutnya, saat ini adalah waktunya menunjukkan rasa keadilan kepada masyarakat.
“Menurut saya pernyataan Pak Ahok memang menyinggung perasaan umat Islam, tapi soal menista atau tidak kita serahkan kepada kepolisian,” tuturnya.
Senin sore, Presiden RI Joko Widodo berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.
Ia disambut Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Ketum PBNU KH Said Aqil serta sejumlah pengurus syuriyah dan tanfidziyah PBNU.
Kepada pers, Jokowi dalam jumpa pers mengatakan silaturahimnya ke PBNU dalam rangka mengokohkan komitmen dalam menciptakan persatuan dan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, peran NU dalam hal ini sudah jelas dan tak diragukan lagi.
“Yang kedua, saya sampaikan terima kasih kepada jajaran NU, termasuk di daerah-daerah, yang telah memberikan pernyataan-pernyataan yang mendinginkan sehingga demo (tentang dugaan penistaan agama pada 4 November) berjalan tertib sampai maghrib,” ujarnya.
Menurut laman nu.or.id, Jokowi yang tiba sekitar pukul 16.00 WIB berdialog dengan pengurus PBNU di ruang Ketua Umum PBNU, Lantai 3 Gedung PBNU. Kedatangannya mendapat kawalan ketat polisi dan paspampres.
Turut serta dalam pertemuan kali ini Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, dan beberapa pengurus lainnya.[Dedi Junaedi]






















