Jakarta, Gontornews — Ada yang berbeda dengan Hari Santri Nasional tahun ini. Dengan mengusung tema Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan, tahun ini beragam event digelar untuk menyemarakkan hari penting nasional yang tiap 22 Oktober diperingati. Sejumlah lembaga termasuk Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyelenggarakan Peringatan Hari Santri Nasional 2022 sebagai wujud untuk meneladani dan merawat semangat kebangsaan yang dicontohkan oleh para santri.
Dalam sambutannya, Menteri BUMN sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat MES Erick Thohir menyampaikan, tema Hari santri nasional tahun ini mengusung tema “Berdaya menjaga martabat kemanusiaan” Tema tersebut mengangkat pesan bahwa santri harus bisa berdaya mengarahkan segala usahanya dalam belajar, bersosial dan berkarya menjadi SDM unggul dan bermartabat bagi bangsa dan negara. Selain itutema Santri berdaya untuk Indonesia Sejahtera ini diusung sebagai bentuk dukungan pada program pemberdayaan bagi santri, untuk mendorong kesejahteraan bangsa. Sebab santri dan Pesantren menyimpan potensi besar, yang dapat dioptimalkan dalam mendorong kemajuan bangsa Indonesia.
Menurutnya, sebagai organisasi yang inklusif, masyarakat ekonomi syariah menyadari betul hal ini sejak awal ketika Wapres mendorong anggota kepengurusan MES untuk benar-benar memajukan ekonomi keumatan ini menjadi bagian yang harus dilaksanakan secara bersama-sama. Sebagai langkah awalnya, pengurus pusat MES diberi kesempatan untuk bersinergi dengan OJK, untuk melakukan MoU kerjasama. “Sebagaimana kita ketahui pada tanggal 22 Oktober 2002 lalu kita juga MES dan OJK menyelenggarakan kegiatan Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah atau Sakinah, yang digelar serentak di 5 pondok pesantren,” ujar Erick dalam acara Peringatan Hari Santri Nasional 2022, Senin (31/10/2022).
Untuk diketahui belum lama ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui kerjasama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah menggelar rangkaian kegiatan bertema “SAKINAH” (Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah). Acara yang digelar pada Sabtu (22/10/2022) ini dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Bantul diikuti oleh Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Leuwipanjang Banten, Pondok Pesantren API Syubbanul Wathon Secang Magelang, dan Pondok Pesantren Al-Anwar Bangkalan.
Menurut Erick, pemahaman keuangan ini penting termasuk bagi santri, karena ilmu tentang pengelolaan keuangan merupakan keterampilan hidup yang sangat penting dan dibutuhkan oleh para santri dan kita semua. “Kerjasama seperti ini diharapkan dapat terus terjalin dengan berbagai pihak. Acara pelaksanaan kegiatan seperti ini bersama pondok pesantren diharapkan untuk memberikan multiplier efek yang positif bagi lingkungan dan sekitarnya termasuk masyarakat mengingat peran penting santri di lingkungan,” pungkasnya.
Tentang pesantren, Friderica Widyasari Dewi Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen menjelaskan, ke depan pesantren harus memiliki peran bukan hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tapi juga pusat pemberdayaan ekonomi umat, salah satunya melalui pengenalan dan pemanfaatan dari layanan jasa keuangan syariah.“Produk dan layanan keuangan syariah dapat menjadi solusi dalam mendukung peran pemberdayaan ekonomi dan aktivitas transaksi keuangan di lingkungan pesantren,” jelas Friderica di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Bantul, Sabtu (22/10/2022).
Selain itu santri juga perlu didorong untuk memiliki literasi keuangan yang baik agar dapat memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses keuangan (inklusi) pada lembaga jasa keuangan formal. Literasi adalah pemahaman masyarakat terhadap akses produk dan jasa keuangan, sedangkan inklusi adalah penggunaan produk atau jasa keuangan.
“Besar harapan kami perayaan acara Hari Santri yang dirangkai dengan program bertajuk Sakinah (Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah) ini dapat memberikan manfaat sehingga pemahaman dan akses santri terhadap produk dan layanan jasa keuangan syariah semakin meningkat,” imbuhnya.
Friderica mengungkapkan, upaya meningkatkan literasi keuangan penting dilakukan, mengingat literasi keuangan masyarakat masih rendah dibanding tingkat inklusi keuangan. Di samping itu juga ada gap yang besar antara kondisi literasi dan inklusi keuangan konvensional dengan literasi dan inklusi keuangan syariah.
Untuk literasi keuangan syariah sendiri indeksnya baru 8,93%, inklusi keuangan syariah 9,10%, lebih rendah dari literasi dan inklusi keuangan konvensional. “Literasi keuangan kita sekitar 38% sedangkan inklusi 75%. Kok lebih tinggi literasinya daripada inklusinya. Berarti masih banyak orang yang menggunakan produk dan jasa keuangan, tapi belum paham. Ini bahaya sekali,”seru dia,” paparnya.
Sosok yang akrab disapa Kiki ini juga mewanti-wanti agar masyarakat tidak terjebak dengan tawaran pinjaman online (Pinjol) ilegal yang saat ini beredar luas di masyarakat. Dengan literasi yang baik dapat menumbuhkan kesadaran mengenai kewaspadaan terhadap penawaran investasi bodong yang marak terjadi di masyarakat. “Pemahaman terkait ekonomi keuangan syariah tidak hanya bermanfaat untuk para santri, tapi juga bisa disampaikan kepada keluarganya agar tidak terjerat pinjaman online ilegal,” ucapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat MES Iggi Haruman Achsien yang menjelaskan, santri memiliki potensi besar yang perlu dioptimalkan untuk meningkatkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Kementerian Agama mencatat, total santri di Indonesia mencapai 4,1 juta yang tersebar di 27.722 pesantren. Dengan jumlah santri yang semakin bertambah, santri menjadi elemen penting dalam mendorong kemajuan peradaban. Pada saat yang sama, pesantren juga merupakan pasar yang memiliki potensi ekonomi besar dalam hal pemenuhan kebutuhan santri.
Menurutnya, santri dengan karakteristiknya yang terkenal dengan keuletan, disiplin, sabar, mandiri, dan tawadhu dapat menjadi bagian penting dalam memajukan ekonomi syariah Indonesia. Sikap santri tersebut adalah soft skill yang harus dioptimalkan melalui penyediaan sarana dan akses keuangan syariah yang mudah dijangkau. Santri dengan kreativitasnya juga dapat memberikan implikasi positif terhadap positioning pesantren sebagai salah satu roda penggerak ekonomi syariah terutama dengan aktivitas pemberdayaan bisnis yang masif dan berkelanjutan di sektor-sektor potensial.
Namun demikian untuk mengoptimalkan fungsi ekonomi pesantren perlu disusun sebuah roadmap yang mencakup strategi pemberdayaan ekonomi pesantren yang dapat dikembangkan secara bertahap dan berkelanjutan. Diantara aspek yang perlu diperhatikan secara khusus adalah literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan pesantren, santri, dan masyarakat sekitar. Melalui program Gerakan Santri Menabung diharapkan dapat menjadi jalan bagi upaya akselerasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. “Dalam program Gerakan Santri Menabung ini, santri kita harapkan dapat berperan secara langsung dalam upaya kita bersama mendorong literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia,” kata Iggi. []
























