Bogor, Gontornews – Sebanyak 60 siswa Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, mendapat apresiasi setelah menyelesaikan pembelajaran Tahsin Al-Qur’an dan bersiap melanjutkan ke kelas Tahfizh. Penghargaan itu diberikan dalam acara Haflah Tilawatil Qur’an ke-5 yang digelar di Aula Lantai 2 SMPIT Insantama Leuwiliang, Sabtu (5/9/2026).
Para peserta Haflah berasal dari kelas 5, 6, 8, dan 9. Kegiatan tersebut menjadi salah satu tahapan dalam pembinaan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an di lingkungan SIT Insantama Leuwiliang.
Ketua Yayasan Amanah Insantama, Ir H Ahmad Soim, mengatakan pembelajaran Tahsin merupakan program yang wajib diikuti seluruh siswa. Setelah menyelesaikan kelas Tahsin, siswa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan ke program Tahfizh.
“Tahsin wajib bagi semua siswa,” kata Ahmad Soim dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, Haflah sekaligus menjadi bentuk penghargaan kepada siswa yang telah menyelesaikan tahap pembelajaran Tahsin. Menurut dia, keberhasilan tersebut patut disyukuri sekaligus menjadi pijakan bagi siswa untuk memasuki tahapan berikutnya dalam pembelajaran Al-Qur’an.
“Ini adalah penghargaan kepada anak-anak yang sudah selesai kelas Tahsin dan masuk ke kelas Tahfizh,” ujarnya di depan para wali murid dan guru.
Ahmad Soim kemudian bertanya kepada para siswa apakah mereka merasa senang setelah menyelesaikan kelas Tahsin.
“Senang?” tanyanya.
“Senang!” jawab para siswa secara serempak.
Dua Jalur Menuju Tahfizh
Ahmad Soim menjelaskan bahwa terdapat dua jalur yang dapat ditempuh siswa untuk masuk ke kelas Tahfizh, yakni jalur Hotmul Qur’an dan jalur Haflah Qur’an.
Setelah dinyatakan lulus dari kelas Tahsin, para siswa kemudian melanjutkan pembelajaran pada kelas Tahfizh. Proses tersebut tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui pembinaan dan evaluasi yang dilakukan secara berkala.
“Proses dan evaluasi dilakukan setiap pekan,” kata Ahmad Soim.
Evaluasi rutin tersebut menjadi bagian penting untuk memantau perkembangan kemampuan setiap siswa dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an. Dengan evaluasi yang dilakukan secara berkala, sekolah dapat mengetahui perkembangan siswa sekaligus memberikan pendampingan sesuai dengan kebutuhannya.
Dukungan Orang Tua
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Soim juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung proses pembelajaran Al-Qur’an. Menurutnya, pembinaan yang dilakukan di sekolah perlu diperkuat dengan pembiasaan dan pendampingan di lingkungan keluarga.
“Perlu dukungan ibu dan bapak semua di rumah,” ujarnya.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu siswa menjaga konsistensi belajar, membaca, dan menghafal Al-Qur’an. Dengan sinergi antara sekolah dan keluarga, proses pembinaan diharapkan dapat berjalan lebih optimal.

Haflah Tilawatil Qur’an ke-5 akhirnya tidak sekadar menjadi seremoni pemberian penghargaan. Kegiatan tersebut menjadi penanda perjalanan siswa dari tahap memperbaiki bacaan Al-Qur’an melalui Tahsin menuju proses menghafal Al-Qur’an melalui program Tahfizh.
“Terima kasih sudah hadir pada acara Haflah hari ini,” kata Ahmad Soim kepada para orang tua dan seluruh peserta yang hadir.
Melalui program Tahsin dan Tahfizh yang dilakukan secara berkesinambungan, SIT Insantama Leuwiliang berupaya menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus membangun kebiasaan membaca dan menghafalnya sejak usia sekolah. []























