Sumenep, Gontornews — Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani MA, pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura, menuturkan, pentingnya mempertahankan estafet perjuangan Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). “Meskipun pondok sekarang dalam keadaan berkabung, tapi Pondok Modern Gontor tidak boleh terus berkepanjangan dalam kesedihan,” ujarnya.
KH Fauzi juga menambahkan, salah satu falsafah pondok adalah harus seperti kereta api. Bahwa kereta harus tetap berjalan, siapapun masinisnya, dengan tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai, panca jiwa, dan panca jangka PMDG.
“Kita berdoa semoga amanah ini selalu senantiasa mendapatkan mau’nah, tawfiq, ‘inayah dari Allah SWT, dan diberi keistiqamahan dalam memimpin sampai akhir hayat,” doa kiai sebagaimana diutarakan kepada Gontornews.com. Tak lupa, semoga para pemimpin yang baru juga bisa turut melanjutkan dan mempertahankan semua perjuangan almarhum KH Abdullah Syukri Zarkasyi, aamiin.
Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, memang memiliki hubungan dekat dengan Pondok Gontor. Baik dikarenakan adanya ikatan kekeluargaan seperti saat ini, maupun berkat ikatan persahabatan yang sudah terjalin erat antara pendiri Gontor (KH Imam Zarkasyi) dengan pendiri Al-Amien (KH Djauhari Khatib).
“Kakek kami, KH Djauhari Khatib, yang sudah sangat akrab dengan KH Imam Zarkasyi dalam dakwah perjuangan kala itu, sangat yakin dengan pola pendidikan yang diyakini dan diterapkan oleh sahabat seperjuangannya, KH Imam Zarkasyi,” tutur KH Fauzi, cucu pendiri Pondok Gontor dan Pondok Al-Amien tersebut.
Maka, mulai anak laki-laki pertama KH Djauhari yakni KH Moh Tidjani, KH Moh Idris, sampai terakhir KH Maktum, semuanya dipondokkan ke Gontor dan menjadi alumni Gontor. Bahkan sampai generasi ketiga Al-Amien pun juga menjadi alumni Gontor.
Dikisahkan bahwa karena sangat dipercaya oleh KH Imam Zarkasyi, maka almarhum KH Moh Tidjani sampai diangkatnya menjadi menantu. Menurut saksi, alumni PMDG, KH Imam Zarkasyi sering menyebut nama KH Moh Tidjani dalam banyak kesempatan di depan para santri, baik saat Khutbatul Arsy maupun acara-acara pembekalan kelas enam.
Selain itu Pondok Al-Amien khususnya lembaga TMI (Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah) adalah satu-satunya lembaga alumni PMDG pada tahun 70-an yang berani membuka lembaga pendidikan dengan sistem serta kurikulum yang sangat persis dengan KMI (Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah) Gontor. Sampai pertengahan tahun 2000-an Al-Amien tidak mengikuti kurikulum Departemen Agama atau pendidikan nasional.
Alhamdulillah Pondok Al-Amien masih terus mandiri dan istiqamah hingga sekarang. “Semoga ke depan akan selalu tecermin juga ruh panca jiwa Gontor ke semua lembaga dan jajarannya, guru serta santri dibawah Yayasan Al-Amien Prenduan,” pungkas kyai. [Edithya Miranti]



















Mumtaz jiddan