Jakarta, Gontornews — Media internasional, Reuters, Senin (4/1/2020), menyoroti langkah Pemerintah Indonesia dalam menentukan prioritas penerima vaksin Covid-19. Berbeda dengan Amerika Serikat maupun Eropa, Indonesia memprioritaskan penerima vaksin pada masyarakat berusia 19-58 tahun. Sementara AS dan Eropa menjadikan para orang tua lanjut usia (lansia), berusia 60 tahun ke atas, sebagai prioritas penerima vaksin Covid-19.
Untuk tahap pertama, perusahaan farmasi Cina, Sinovac, mengirimkan total 3 juta dari 125,5 juta dosis vaksin Covid-19 kepada Indonesia.
“Kami tidak melawan tren,” kata jurubicara vaksin Covid-19, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi sebagaimana dilansir Reuters.
Ia menambahkan bahwa otoritas terkait tengah menunggu rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memutuskan rencana vaksinasi bagi kelompok lansia.
Muncul keraguan bahwa vaksin buatan Sinovac tidak kompatibel bagi semua usia. Berbeda dengan Indonesia, Amerika Serikat dan Eropa menggunakan vaksin buatan Pfizer dan BioNTech dalam rangka vaksinasi. Sekalipun Indonesia juga berhasil menyepakati pembelian kedua vaksin tersebut, untuk tahap pertama, Indonesia justru menerima kedatangan vaksin Sinovac asal Cina.
“Saya rasa tidak ada yang bisa terlalu dogmatis tentang pendekatan (vaksinasi apa yang) paling tepat,” ungkap pakar penyakit menular Australian National University (ANU), Peter Collignon.
Collignon berasumsi strategi Indonesia adalah dengan memperlambat penyebaran virus ketimbang menimbulkan kekebalan komunal atau herd immunity. Meski demikian, ia juga beranggapan bahwa memperlambat penyebaran virus tidak ada kaitannya dengan mempengaruhi angka kematian.
Sementara itu, Profesor Dale Fisher dari Fakultas Kedokteran Yong Loo Lin School of Medicine Singapura, mengemukakan pemahaman dasar yang Indonesia terapkan. Ia menyebut Indonesia menitikberatkan strategi vaksinasi Indonesia kepada pemuda karena menilai pekerja muda Indonesia bergerak lebih aktif secara sosial.
“Orang dewasa yang lebih muda umumnya lebih aktif, lebih sosial dan lebih banyak bepergian sehingga strategi ini harus memerlukan pengurangan penularan komunitas secara lebih masif ketimbang memvaksinasi para lansia,” ucap Prof Dale Fisher.
“Tentu saja orang tua lebih berisiko terhadap penyakit parah dan kematian. Jadi, strategi vaksinasi mereka lebih beralasan. Saya melihat manfaat dari kedua strategi tersebut,” tambahnya. [Mohamad Deny Irawan]


















