Istanbul, Gontornews — Direktur eksekutif Pusat Pendidikan Kebijakan Nonproliferasi di Washington, DC, Henry D Sokolski mengingatkan Turki soal pembangunan energi nuklir yang baru ini dilakukan upacara peletakan batu ketiga pembangkit listrik tenaga nuklir Akkuyu. Selain akan adanya ketergantungan Turki terhadap Rusia, juga mengenai posisi Turki yang berada di antara negara-negara berkonflik seperti Suriah.
Sokolski mengatakan model pembiayaan Akkuyu dapat meningkatkan ketergantungan Ankara pada Rusia, yang merupakan penyedia energi utama ke Turki. Sebab Proyek tersebut sepenuhnya dibiayai oleh Moskow.
Menurutnya, kerja sama Turki-Rusia dalam hal ini, membutuhkan investasi modal yang cukup besar. Namun mengapa Turki membebani utang seperti itu sementara sumber daya energi alternatif dan yang lebih murah sedang disiapkan.
Tidak hanya itu, Sokolski juga menjelaskan bahwa saat ini, Turki berada di lingkungan rawan konflik, dan bahkan Turki juga memiliki peran dalam konflik regional di sekitar negara itu.
Sementara, lanjutnya, rudal dan drone dapat melumpuhkan jalur pasokan listrik penting ke reaktor dan menghancurkan generator darurat, ruang kendali nuklir, gedung penahanan reaktor, dan bangunan bahan bakar reaktor bekas.
“Lingkungan Anda berbahaya. Orang-orang sedang bertengkar. Reaktor nuklir dalam perang penembakan bisa menjadi target.” katanya seperti dikutip lama Aljazeera.
Turki sendiri, telah melancarkan perang melawan PKK (Partai Pekerja Kurdistan) yang terdaftar sebagai organisasi “teroris” bukan hanya oleh Turki, namun juga Amerika Serikat dan Uni Eropa. Selama beberapa dekade konflik terjadi telah menewaskan sekitar 40.000 orang.
Laporan berita telah menunjukkan kelompok bersenjata itu, memiliki kamp-kamp tempat pengembangan drone di Irak utara.
Turki juga terlibat dalam konflik di Suriah dan Mediterania timur, sementara pemberontak Houthi yang berpihak pada Iran di Yaman telah menargetkan target Saudi dan Emirat dengan rudal dan drone. “Kelompok bersenjata seperti Pasukan Pertahanan Nasional Suriah, yang mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, dapat meniru serangan semacam itu,” kata Sokolski.
Sementara itu, Direktur Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri yang berbasis di Istanbul, Sinan Ulgen membantah pernyataan Sokolski. Risiko kecelakaan nuklir tidak akan bisa diselesaikan.
“Namun yang penting adalah melihat contoh yang berhasil dan apa yang sedang dibangun di Turki adalah senyawa generasi baru berteknologi tinggi,” jelasnya.
Ulgen juga mengatakan, Akkuyu dirancang berdasarkan analisis risiko dan percaya drone improvisasi tidak dapat merusak fasilitas semacam itu.[Devi]























