Perak, Gontornews — Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, Prof Dr M Din Syamsuddin mengatakan bahwa perlunya revitalisasi pendidikan di negara-negara Islam. Sebab menurutnya, pendidikan di berbagai negara Islam di dunia mengalami kemunduran yang serius.
“Keadaan demikian menyebabkan Dunia Islam menempati posisi inferior dalam persaingan global dan belum mampu membangkitkan peradaban Islam,” ungkapnya pada Konferensi Internasional di Universiti Sultan Azlan Shah (USAS), Perak, Malaysia, Selasa (21/7/2026).
Dalam acara yang diselenggarakan selama tiga dan diikuti sekitar 300 peserta dan pembicara para cendekiawan dari mancanegara, Din juga menyampaikan bahwa revitalisasi pendidikan Islam merupakan cara menemukan kembali elan-vital peradaban Islam yang pernah berjaya pada abad-abad pertengahan di mana Peradaban Islam ketika itu berbasis ilmu pengetahuan.
“Oleh karena itu revitalisasi pendidikan Islam perlu dilakukan dengan kontekstualisasi selain terhadap realitas kekinian, juga terhadap kejayaan masa lampau dengan berorientasi ke masa depan,” ungkap Alumni Gontor 1975 itu.
Selain itu, dalam kesempatan tersebut Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu juga menerangkan tentang bagaimana organisasi Muhammadiyah berhasil menggerakkan pendidikan di tanah air, Indonesia, yaitu bahwa orientasi pendidikan Muhammadiyah: pencerahan.
Pencerahan tersebut dilakukan melalui tahapan-tahapan pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan potensi-potensi insani. Dalam kaitan ini, pendidikan diharapkan berfungsi instrumental untuk memajukan peradaban yaitu melalui tersedianya Sumber Daya Insani yang bermutu.
“Pendidikan Muhammadiyah bersifat inklusif yakni pendidikan bagi semua. Hasilnya, sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah di beberapa daerah minoritas Muslim memiliki siswa dan mahasiswa mayoritas non-Muslim. Orientasi kemanusiaan pendidikan Muhammadiyah ini merupakan manifestasi dari Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi alam semesta),” jelasnya.
Dalam perspektif demikian, lanjut Din, peradaban utama yang dicita-citakan melalui pendidikan bersifat global atau mondial, membawa kemaslahatan seluruh umat manusia.
Din juga mengatakan mengenai dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang masih melanda pendidikan Islam dan harus segera diatasi.
“Alhamdulillah, sudah mulai ada solusi yakni dengan melakukan integrasi keilmuan, seperti yang dilakukan Malaysia dengan membagi ilmu pengetahuan kepada ilmu kewahyuan dan ilmu keaqlian (berdasarkan akal pikiran).
Namun, menurut Pengasuh Pesantren Modern Internasional Dea Malela ini, integrasi ilmu pengetahuan (antara ilmu pengetahuan agama, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial) juga perlu dilakukan pada tataran substansi dari ketiga rumpun ilmu pengetahuan tersebut.
Substansiasi demikian akan melahirkan wawasan keterpaduan sejati sehingga pada dasarnya tidak ada perbedaan apalagi pertentangan antara semua ilmu pengetahuan yang sesungguhnya berasal dari Sang Pencipta, Allah SWT. Itulah yg dipraktikkan di PMI Dea Malela, Sumbawa, yang diasuh Din Syamsuddin. [Devi Lusianawati]





















