New York, Gontornews — PBB pada hari Selasa (16/3) menyerukan penyelidikan independen atas kematian puluhan migran Afrika dalam kebakaran baru-baru ini di pusat penahanan yang dikelola Houthi di Yaman.
“Bukan hanya orang Yaman yang menderita di Yaman,” kata Martin Griffiths, utusan PBB untuk negara tersebut, sebagaimana dikutip Arabnews.com.
Dunia diingatkan akan penderitaan komunitas migran pekan lalu ketika kebakaran mengerikan terjadi di fasilitas penahanan di Sana’a yang menampung sebagian besar migran Ethiopia.
“Puluhan orang tewas dalam kebakaran itu dan lebih dari 170 orang terluka parah. Harus ada penyelidikan independen terhadap penyebab kebakaran,” tandasnya.
Dia menambahkan bahwa situasi di negara itu memburuk karena konflik terus berlanjut, terutama sehubungan dengan serangan milisi Houthi di Marib dan peningkatan serangan lintas batas baru-baru ini oleh kelompok yang menargetkan Arab Saudi itu.
“Serangan ‘Ansar Allah’ di Provinsi Marib terus berlanjut, menempatkan warga sipil, termasuk sekitar satu juta pengungsi internal dalam bahaya,” kata Griffiths merujuk nama resmi gerakan Houthi.
“Pasukan tempur di kedua sisi menderita kerugian besar. Saya melihat laporan mengejutkan tentang anak-anak yang semakin tertarik pada perang dan kehilangan masa depan mereka,” lanjutnya.
“Serangan lintas batas juga meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Saya prihatin dengan intensifikasi serangan rudal dan drone, termasuk yang menargetkan infrastruktur sipil dan komersial di Kerajaan Arab Saudi. Selanjutnya, serangan udara terjadi di wilayah kota Sana’a, membahayakan warga sipil.”
Menurutnya, di Hodeidah telah terjadi kekerasan berkelanjutan yang meresahkan yang menyebabkan kematian dan luka-luka warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. “Saya dan Jenderal Guha, kepala Misi PBB untuk Mendukung Perjanjian Hudaydah, mengutuk serangan yang membahayakan warga sipil.”
Sementara itu, Mark Lowcock, kepala kemanusiaan PBB, menyerukan mereka yang bersalah melanggar hukum humaniter di negara itu untuk dimintai pertanggungjawaban.
“Sekitar 15.000 orang telah melarikan diri, menjauh dari pertempuran. Lebih dari setengahnya berdesakan di kamp darurat atau tempat berbahaya lainnya,” katanya.
“Jika pertempuran meningkat, puluhan ribu lainnya akan melarikan diri, kemungkinan besar ke kamp-kamp yang sangat padat yang sudah melebihi kapasitas,” paparnya. []




















