Dushanbe, Gontornews — Pemerintah Tajikistan, Jum’at (23/7/2021), mengatakan pihaknya siap untuk menampung 100.000 pengungsi Afghanistan. Tajikistan tengah bersiap menyusul terjadinya perebutan wilayah antara pemerintah Afghanistan dengan Taliban di perbatasan Utara.
Wakil Kepala Komite Darurat dan Pertahanan Sipil Tajikistan, Imomali Ibrohimzoda, menjelaskan jika jumlah pengungsi melebihi 100.000 orang, maka pihaknya akan meminta bantuan komunitas internasional.
Ibrohimdoza menambahkan pemerintah Tajikistan akan membangun dua depot dapur umum di Khatlon sebagai antisipasi masuknya para pengungsi dari wilayah tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, Tajikistan, sambung Ibrohimzoda, menyelenggarakan 11 penerbangan unutk memulangkan 1.600 warga Afghanistan yang masuk ke negaranya. Ribuan warga Afghanistan yang masuk ke Tajikisan, umumnya, adalah para warga sipil yang menghindari bentrokan militer antara pasukan pemerintah Afghanistan dan Taliban.
Sebagaimana dilansir Reuters, awal pekan ini, Gubernur Khatlon, Qurbon Hakimzoda, berencana membangun dua kamp pengungsian sementara di distrik Jaihun.
Sebelumnya, ratusan warga Afghanistan, termasuk polisi maupun pasukan pemerintah, telah meninggalkan negara untuk pergi ke Tajikistan maupun Uzbekistan. Mereka mengungsi untuk menghindari bentrokan antara pasukan pemerintah dengan Taliban.
Para militan telah menguasai sebagian besar wilayah perbatasan sejak pemerintah Amerika Serikat mulai menarik pasukanya pada 1 Mei lalu.
Pekan lalu, hampir 350 penggembala kambing entis Kirgistan dari Afghanistan masuk ke Tajikistan bersama keluarga dan 4.000 hewan ternaknya. Pemerintah Tajikistan lantas mengembalikan mereka beserta ternaknya ke Afghanistan setelah Kabul menjamin keselamatan mereka.
Amerika Serikat telah mengumumkan penarikan semua pasukannya pada 31 Agustus mendatang. Awal bulan ini, pasukan AS akan mengosongkan pangkalan militer mereka di Bagram, Kabul Utara.
Percepatan penarikan pasukan Amerika Serikat serta keberhasilan Taliban dalam peperangan memicu kekhawatiran bahwa pemerintah Kabul mungkin runtuh. [Mohamad Deny Irawan]


















