Petalingjaya, Gontornews — Pemerintah Malaysia, Jum’at (23/7/2021), mengonfirmasi suntikan vaksin kosong kepada seorang wanita. Pemerintah menjelaskan bahwa insiden tersebut murni kelalaian manusia seraya menyebut vaksinator berada dalam kondisi kelelahan.
Dua orang lain dari negara bagian Kedah menerima dosis vaksin tambahan karena merasa ragu apakah mereka juga mendapatkan suntikan kosong vaksin atau tidak.
“Bahkan jika ada satu kesalahan, itu sudah terlalu banyak,” ungkap Menteri Sains, Teknologi dan Inovasi Malaysia, Kahiry Jamaludin.
“Untuk beberapa kasus yang terjadi karena kelalaian manusia, saya mengucapkan permohonan maaf kepada mereka. Tentu saja, kami akan melakukan (kampanye vaksinasi) dengan lebih baik,” imbuhnya sebagaimana dilansir Sky News.
Sebanyak 13 orang telah melaporkan insiden ini kepada pihak kepolisian. Mayoritas pelapor mengaku telah mendapatkan vaksin kosong, mendapatkan vaksin palsu atau vaksin yang tidak meyakinkan. Karenanya, Khairy meminta warga untuk mencatat waktu penerimaan vaksin untuk mencegah pengulangan.
“Saya ingin menyarankan kepada masyarakat untuk memahami konteks ini dan memastikan bahwa kita menjaga integritaas program imunisasi nasional.”
“Pun dengan integritas ribuan perawat, dokter dan garda terdepan yang mempertaruhakan hidup mereka dengan program vaksinasi setengah juta (dosis) tiap hari.
Pada Jum’at, otoritas kesehatan Malaysia melaporkan lebih dari 16 juta dosis vaksin Covid-19 telah terdistribusikan. Pada hari yang sama, pemerintah mengklaim berhasil memvaksinasi 16 persen populasi Malaysia. Malaysia melengkapi penggunaan vaksin Covid-19 yang berasal dari Pfizer, AstraZeneca maupun Sinovac.
Pemerintah Malaysia terus merealisasikan target vaksinasi bagi kelompok warga dewasa hingga Oktober mendatang.
Namun, ledakan kasus Covid-19 dalam beberapa hari terakhir telah membuat rumah sakit kebanjiran pasien. Akibatnya, banyak pasien Covid-19 yang tidak mendapatkan pelayanan yang sesuai sekalipun masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 25 Juli mendatang.
Selain Malaysia dan Indonesia, negara-negara Asia Tenggara akan terus mengalami peningkatan jumlah kasus Covid-19 sejak akhir Juni 2021. [Mohamad Deny Irawan]























