Madinah, Gontornews — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Dr Hidayat Nur Wahid (HNW), menyerukan peperangan terhadap paham Islamofobia. Pernyataan ini disampaikan HNW saat menghadiri pertemuan tingkat dunia, International Conference on The Kingdom of Saudi Arabia’s Efforts to Counter Intellectual Deviations, di Universitas Islam Madinah (UIM), 26-30 September 2026.
“Paham Islamofobia merupakan pemahaman menyimpang yang berbahaya bagi dunia. Dan Kerajaan Arab Saudi telah berhasil melakukan pencegahan dengan isu global tersebut,” ungkapnya dalam pertemuan yang diselenggarakan di King Salman International Convention Center Madinah tersebut.
Sebagai informasi, pertemuan lima hari tersebut mempertemukan 54 tokoh penting dari 24 negara di seluruh dunia. Para undangan yang datang merupakan tokoh internasional yang bertindak sebagai mufti, duta besar, menteri hingga ulama terkemuka semisal Syekh Abdurrahman As-Sudais.
Kehadiran Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor itu sekaligus menjadi bukti penting tentang pengakuan dunia atas keilmuan ulama dari Indonesia. Pada tahun 2023, HNW mendapatkan penghargaan kehormatan “Jaizah Al Khirrijin Ar-Ruwaad” dari almamaternya, UIM. Penghargaan itupun langsung diserahkan oleh Emir Madinah, Pangeran Faisal bin Salman bin Abdul Aziz beserta Rektor UIM.
Dalam pertemuan tersebut, HNW mendapatkan panggung kehormatan pada sesi ketiga yang dipimpin langsung oleh Penasihat Dewan Kerajaan sekaligus Anggota Dewan Ulama Senior Arab Saudi, Syeikh Prof Dr Saad bin Nasser Al-Shithri.
Secara umum, HNW memaparkan gagasan komprehensif bertajuk: “Pengalaman Arab Saudi dalam Menghadapi Penyimpangan Pemikiran: Tinjauan terhadap Inisiatif-inisiatif Kerajaan dan Kemungkinan Pemanfaatannya di Dunia Islam.” Ia mengapresiasi langkah dan upaya Kerajaan Arab saudi dalam mendorong peringatan hari Islamofobia sedunia yang jatuh pada 15 Maret.
HNW juga mengapresiasi langkah UIM dalam membuka pintu dialog antarperadaban dalam rangka menyebarkan pemahaman yang benar dan memperbaiki pemahaman menyimpang. Namun, ia berharap langkah UIM ini tidak hanya terbatas hadir di Madinah semata tapi juga dibuka di negara lain seperti Indonesia.
Ia pun menyerukan untuk menerjemahkan karya-karya ataupun publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh forum-forum tingkat dunia yang diselenggarakan Kerajaan Arab Saudi. “Tema-tema utama dan publikasi ilmiah yang dihasilkan dalam forum-forum tersebut sebaiknya juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa utama dunia agar masyarakat dunia mendapatkan manfaat dari pertemuan tersebut,” ucap pria yang mengemban amanah sebagai Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor itu.
“Dengan demikian, masyarakat umum akan memahami bahwa sebuah entitas, khususnya Kerajaan Arab Saudi beserta lembaga dan universitasnya semisal Universitas Islam Madinah, secara aktif melawan ideologi-ideologi menyimpang tersebut,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]

























