Tahun 2014, kami dan beberapa rekan mendapat amanah untuk merancang konsep pendidikan perempuan di Pesantren Darunnajah 9 Pamulang. Waktu itu, kami duduk bersama KH Jamhari Abdul Jalal di depan rumah beliau. Beliau memberikan satu pesan yang tidak akan pernah saya lupakan.
Waktu itu beliau tidak bicara soal nilai ujian atau target hafalan. Beliau bicara soal hidup. Bagi Kiai Jamhari, pendidikan perempuan harus berorientasi pada keterampilan hidup (life skills). Beliau lalu memberi satu contoh profesi untuk perempuan yaitu bidan.
Mengapa bidan? Logika beliau sederhana. Seorang bidan bisa membuka praktik di rumah. Di mana pun ia tinggal dan menetap, keahliannya itu bisa digunakan.
Di satu sisi, ia bisa tetap berada di rumah untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Namun di sisi lain, ia tetap memiliki aktivitas produktif dan mandiri secara ekonomi. Ia tidak tercerabut dari kodratnya sebagai ibu, tapi juga tidak kehilangan daya hidupnya sebagai manusia.
Nasihat itu bukan tanpa alasan. Di penghujung pesannya, Kiai Jamhari mengingatkan satu realitas yang seringkali dianggap tabu untuk dibicarakan: musibah. Beliau mengingatkan, bagaimana jika suatu saat perempuan harus tetap mandiri karena suaminya meninggal?
Kalimat itu membuat kami termenung. Betapa tidak, selama ini banyak lembaga pendidikan Islam yang merancang kurikulum perempuan seolah-olah hidup mereka hanya akan berputar di dapur, kasur, dan sumur. Kita sibuk mengajarkan mereka cara menjadi istri yang patuh, tapi jarang membekali mereka dengan keterampilan untuk bertahan hidup saat badai tiba-tiba merenggut pasangan hidupnya.
Dari kacamata manajemen pendidikan Islam, pesan Kiai Jamhari ini sebuah esensi pendidikan yang sangat berharga. Selama ini, kita sering terjebak pada dikotomi yang sempit. Ketika bicara pendidikan agama, kita fokus pada kitab kuning dan hafalan. Ketika bicara keterampilan, kita menganggapnya sebagai urusan sekolah vokasi sekuler.
Padahal, dalam Islam, menuntut ilmu itu mencakup keduanya. Ilmu agama membimbing moral, sementara ilmu keterampilan memastikan keberlangsungan hidup. Sejarah Islam sudah mencatat hal ini jauh sebelum teori-teori manajemen modern lahir.
Istri Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, seorang pengusaha sukses. Juga Sayyidah Aisyah dikenal sebagai ulama besar yang meriwayatkan ribuan hadis. Mereka tidak hanya shalihah secara spiritual, tetapi juga berdaya secara sosial dan ekonomi.
Karena itu, merancang kurikulum pendidikan di pesantren putri atau madrasah aliyah putri tidak bisa hanya meniru pola lama. Manajemen pendidikan Islam hari ini dituntut untuk lebih visioner. Kita perlu merancang manajemen kurikulum yang betul-betul mengintegrasikan ilmu agama yang kokoh dengan keterampilan praktis yang aplikatif.
Mulai dari keperawatan, kewirausahaan, desain, hingga keterampilan teknologi digital. Ini bukan sekadar tren, melainkan bentuk kesiapan lembaga dalam menghadapi kompleksitas zaman.
Nasihat Kiai Jamhari pada 2014 silam sejatinya wasiat tentang kemandirian. Ada kalanya masyarakat kita salah paham tentang makna bakti seorang perempuan. Kemandirian bukan berarti melawan kodrat atau meninggalkan kewajiban domestik. Kemandirian merupakan bentuk kecerdasan untuk melindungi diri dan keluarga, agar tidak menjadi beban orang lain ketika keadaan memaksa.
Hari ini, Kiai Jamhari telah pergi meninggalkan kita. Namun, benih pemikiran yang beliau tanamkan di santri-santri dan kader-kadernya akan terus mewarnai perjuangan pendidikan hari ini dan akan datang.
Beliau telah mengajarkan kepada kami bahwa mendidik perempuan bukanlah soal mencetak lulusan yang sekadar pandai membaca kitab, melainkan soal menyiapkan pejuang tangguh yang bisa merawat keluarga dan menopang dirinya sendiri saat hidup berubah arah.
Wasiat itu akan kami rawat, Kiai. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, dan sebagai janji untuk terus merawat masa depan santri-santri putri kami. []

























