Kediri, Gontornews – Dua dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Mahmud Rifaannudin MAg dan Widya Kurniawan MKom mengikuti kegiatan Al-Multaqa Ad-Dawli Lid-Dirasah Al-Islamiyah Wal Insaniyah Wal Hadariyah (MU’TAMAD) 2026.
Pada kegiatan yang berlangsung di Ma’had Aly Lirboyo Kediri itu, keduanya memaparkan penelitian berjudul “Transformasi Digital Kajian Al-Qur’an di Pesantren: Inovasi Komputasional atas Ayat-ayat Ekologis dalam Tafsir Nusantara”.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, 29-30 Oktober 2026, dengan tema “Menuju Pesantren Transformatif dalam Kajian Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia”.
Dalam forum ilmiah tersebut, tim peneliti menyampaikan makalah tentang pemanfaatan teknologi pemrosesan bahasa alami atau Natural Language Processing (NLP) untuk membantu mengidentifikasi pola penafsiran ayat-ayat lingkungan dalam khazanah tafsir Nusantara.
Kajian tersebut sekaligus menawarkan perspektif tentang bagaimana inovasi digital dapat mendukung pengembangan pembelajaran Al-Qur’an yang kritis, kontekstual, dan relevan dengan persoalan lingkungan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program penelitian yang memperoleh pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026. Melalui forum ini, tim peneliti mengangkat kontribusi riset tersebut dalam diskusi mengenai masa depan pesantren, khususnya dalam mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan teknologi digital tanpa meninggalkan otoritas keilmuan dan metodologi penafsiran.
NLP dan Pola Penafsiran Ekologis
Mahmud Rifaannudin menjelaskan bahwa penggunaan Natural Language Processing (NLP) dalam penelitian bertujuan untuk membantu peneliti menelusuri pola penafsiran ayat-ayat lingkungan dalam khazanah tafsir Nusantara secara lebih sistematis. Teknologi tersebut memungkinkan perbandingan teks dari sejumlah karya tafsir dilakukan berdasarkan pola bahasa dan kedekatan semantik.
Dalam pemaparannya, tim riset UNIDA Gontor menunjukkan bahwa konsep air memiliki nilai rata-rata cosine similarity tertinggi, yaitu 0,4875, diikuti konsep kerusakan sebesar 0,3622. Sementara itu, ‘konsep menumbuhkan’ memperoleh nilai 0,2577, ‘menghidupkan’ 0,2561, ‘alam atau bumi’ 0,2123, serta ‘pemanfaatan dan pengelolaan’ 0,1383.
“Temuan ini memperlihatkan adanya variasi pola bahasa dalam pembahasan ekologis pada empat karya tafsir yang kami kaji,” jelas Mahmud dalam rilis yang diterima gontornews.com.
Menurutnya, angka tersebut perlu dipahami secara proporsional. Nilai cosine similarity menunjukkan tingkat kedekatan representasi teks terhadap kueri yang digunakan dalam analisis, yang ditemukan melalui intensitas penyebutan dalam tes data komputasional.
Temuan tersebut memberikan pelajaran penting bagi perkembangan inovasi digital di pesantren. Penggunaan teknologi tidak cukup berhenti pada penyajian angka, grafik, atau hasil pencarian. Teknologi justru dapat menjadi pintu masuk bagi santri untuk mengembangkan keterampilan membaca kritis, membandingkan sumber, memeriksa bukti, dan memahami alasan di balik perbedaan penafsiran.
Teknologi Digital sebagai Penguat Tradisi Keilmuan Pesantren
Mahmud menambahkan, transformasi digital kajian Al-Qur’an perlu diarahkan pada penguatan tradisi keilmuan pesantren, bukan menggantikannya. Teknologi komputasional dapat membantu mempercepat penelusuran sumber dan memperluas cakupan perbandingan teks, sedangkan pemahaman makna tetap memerlukan penguasaan bahasa Arab, ulumul Qur’an, metodologi tafsir, serta bimbingan guru.
“Inovasi digital dalam kajian Al-Qur’an seharusnya tidak dipahami sekadar sebagai pemindahan kitab ke layar digital. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi membantu santri mengajukan pertanyaan, menelusuri sumber secara sistematis, membandingkan penjelasan para mufasir, dan menguji hasil pencarian berdasarkan teks aslinya. Dengan demikian, literasi kitab dan literasi digital dapat berkembang secara beriringan,” ungkap Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UNIDA Gontor tersebut.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pesantren memiliki peluang untuk mengembangkan model pembelajaran tafsir yang memadukan kedalaman tradisi keilmuan Islam dengan keterampilan analisis data.
Santri dapat diajak menelusuri ayat-ayat ekologis, membandingkan penjelasan dalam beberapa kitab tafsir, kemudian mendiskusikan keterkaitannya dengan persoalan lingkungan yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini menawarkan salah satu arah pengembangan kajian Al-Qur’an di era digital: mempertemukan metode komputasional, khazanah tafsir Nusantara, dan penguatan etika lingkungan.
Bagi pesantren, pendekatan tersebut dapat menjadi pijakan untuk membangun pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus tetap berakar pada tradisi keilmuan, ketelitian akademik, dan tanggung jawab sosial. [Mohamad Deny Irawan]























