Wafatnya KH Jamhari Abdul Jalal Lc, Pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor, pada Selasa (27/10/2026), meninggalkan duka mendalam bagi Ahmad Madani, alumni Pondok Modern Darussalam Gontor angkatan 2001.
Bagi Madani, almarhum merupakan salah satu sosok pendidik yang memberikan pelajaran hidup melalui sebuah peristiwa yang terjadi hampir 24 tahun lalu.
Menjelang akhir tahun 2002, selepas menyelesaikan pendidikan dan masa pengabdian di Gontor, Madani mendatangi Darunnajah 2 Cipining dengan harapan menjadi guru. Namun, keinginannya tidak diterima oleh KH Jamhari Abdul Jalal.
“Antum lebih baik di luar daripada di dalam pondok,” demikian kalimat almarhum yang masih diingat Madani hingga sekarang.
Penolakan tersebut sempat membuat Madani kecewa dan mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri. Dalam perjalanan pulang menggunakan kereta Parung Panjang–Tanah Abang, ia terus merenungkan ucapan tersebut.
Perlahan, Madani mulai memaknainya sebagai bentuk dorongan agar dirinya berani mencari pengalaman serta memberikan manfaat melalui kehidupan di luar lingkungan pesantren.
“Saat itu saya belum percaya diri dengan kemampuan saya. Tetapi saya memilih memahami kalimat beliau sebagai sebuah keyakinan bahwa saya mampu menghadapi kehidupan di luar pondok,” kenang Madani.
Dunia Profesional
Setelah peristiwa tersebut, Madani menempuh perjalanan sebagai seorang sales sebelum kemudian mengembangkan aktivitasnya dalam bidang pemasaran, pelatihan penjualan, serta pendidikan vokasi.
Berbagai pengalaman profesional membuatnya semakin memahami bahwa nilai-nilai yang ditanamkan selama menjadi santri, seperti kedisiplinan, kemandirian, kejujuran, dan kesungguhan dalam belajar, tetap relevan dalam dunia kerja.
Menurut Madani, pengabdian alumni pesantren tidak terbatas pada profesi guru atau keberadaan mereka di lingkungan pondok. Pengabdian juga dapat diwujudkan melalui profesi, keahlian, dan kontribusi yang memberikan manfaat kepada masyarakat.
Kembali Berbagi
Perjalanan tersebut akhirnya mempertemukan Madani kembali dengan Darunnajah 2 Cipining. Selama lima tahun terakhir, ia rutin memberikan pembekalan kepada santri akhir menjelang kegiatan Rihlah Iqtishodiyah.
Melalui kegiatan itu, Madani berbagi pengalaman mengenai dunia penjualan, pemasaran, komunikasi, dan kesiapan menghadapi kehidupan selepas pesantren.
“Dulu saya datang ingin menjadi guru, tetapi tidak diterima. Bertahun-tahun kemudian, saya kembali untuk berbagi pengalaman kepada para santri. Bagi saya, ini merupakan salah satu hikmah dari perjalanan hidup yang dahulu tidak saya pahami,” tuturnya.
Madani mengaku sangat kehilangan atas kepergian KH Jamhari Abdul Jalal. Ia mengenang almarhum sebagai sosok yang diyakininya telah melihat potensi dirinya, ketika ia sendiri masih merasa ragu.
“Beliau merupakan orang yang saya kenang sebagai sosok yang percaya saya mampu, saat saya sendiri belum yakin. Saya berharap ilmu dan pengalaman yang saya bagikan dapat menjadi bagian kecil dari keberlanjutan nilai-nilai pengabdian yang beliau tanamkan,” ungkapnya.
Bagi Madani, kenangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menjadi alumni pesantren berarti terus membawa semangat belajar dan pengabdian ke mana pun kehidupan mengantarkan.
Ia mendoakan agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdian KH Jamhari Abdul Jalal, mengampuni segala khilafnya, serta memberikan ketabahan kepada keluarga dan keluarga besar Darunnajah.
“Terima kasih, Kiai. Dulu saya pulang membawa kekecewaan. Kini saya mengenang antum dengan rasa syukur. Semoga Allah menempatkan antum di tempat terbaik di sisi-Nya,” pungkas Madani. Al-Fatihah. []
























