Jakarta, Gontornews – Sebanyak 19 mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melaksanakan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) ke Pondok Pesantren Tahfizh dan Qira’at Daru Hasbi Jakarta, Sabtu (10/10/2026). Kunjungan akademik tersebut didampingi oleh Dr Elit Ave Hidayatullah SThI MUs dan Ustadzah Rezki Kaulan Maisuroh MPdI.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswi untuk mendalami sistem pembelajaran Al-Qur’an, khususnya dalam bidang tahsin, tahfizh, dan ilmu qira’at. Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh gambaran mengenai proses pembentukan penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya menekankan kuantitas hafalan, tetapi juga kualitas bacaan dan penguasaan ilmu-ilmu pendukungnya.
Pimpinan Pesantren Daru Hasbi Jakarta, Ustadz Muhammad Fikri Hasbi Lc menjelaskan bahwa Daru Hasbi, sejak awal berdiri, menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat pendidikan. Lembaga yang masih dalam tahap pengembangan tersebut berupaya mengintegrasikan pembelajaran Al-Qur’an dengan penguasaan bahasa Arab dan berbagai disiplin ilmu keislaman.
Ia menekankan pentingnya penguatan tahsin, tahfizh, dan bahasa Arab sebagai unsur utama pendidikan pesantren. Para santri juga dibekali ilmu nahwu, sharaf, fikih, akidah, sirah, hadits, dan faraidh.
“Pembelajaran ilmu qira’at diperkenalkan sejak jenjang pendidikan menengah, sedangkan penguatan praktiknya dilakukan sesuai tahapan kemampuan santri,” ungkap Ustadz Fikri Hasbi dalam rilis yang diterima Gontornews.com.
Lebih lanjut, penguasaan bahasa Arab memiliki hubungan erat dengan kajian Al-Qur’an dan tafsir. Karena itu, pembelajaran Al-Qur’an perlu didukung kemampuan memahami bahasa Arab, ketepatan makhraj, serta kualitas bacaan yang sesuai dengan kaidah.
Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 2002 itu juga menyampaikan bahwa pengembangan lembaga pendidikan Al-Qur’an membutuhkan kesabaran dan kesungguhan. Sebuah lembaga tidak harus langsung berkembang menjadi besar, tetapi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Saya turut mendorong para mahasiswa agar kelak berkontribusi kepada masyarakat melalui pengajaran Al-Qur’an dan pengembangan pendidikan Islam,” ucap Ustadz Fikri.
Sementara itu, Dosen pembimbing IQT UNIDA Gontor, Dr Elit Ave Hidayatullah menyoroti pentingnya mengembangkan penelitian Al-Qur’an yang dapat berdialog dengan ilmu pengetahuan. Menurutnya, kajian Al-Qur’an memiliki peluang untuk dikembangkan melalui berbagai disiplin ilmu, termasuk sains, selama tetap memperhatikan landasan keilmuan Islam.
“Pengetahuan yang diperoleh selama masa perkuliahan juga diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan tuntutan akademik, tetapi terus diamalkan melalui pengajaran dan pengembangan ilmu Al-Qur’an di tengah masyarakat,” katanya.
Dalam program tahfizh, Daru Hasbi menerapkan beberapa pola muraja’ah, yaitu secara mandiri, muraja’ah berpasangan, dan tasmi’ pekanan. Melalui muraja’ah mandiri, santri mengatur keseimbangan antara hafalan baru dan hafalan lama sesuai capaian hafalannya.
Adapun muraja’ah berpasangan dilakukan dengan saling menyimak setoran hafalan setiap hari. Selain itu, tasmi’ pekanan menjadi salah satu bentuk evaluasi untuk menjaga kualitas hafalan.
Salah seorang peserta SPL IQT UNIDA Gontor, Novalia Arshanti, mengatakan bahwa kunjungan ke Daru Hasbi memberikan wawasan mengenai praktik pendidikan Al-Qur’an yang memadukan tahsin, tahfizh, dan ilmu qira’at.
“Pengalaman ini juga memperlihatkan pentingnya membangun tradisi keilmuan Al-Qur’an secara menyeluruh, mulai dari ketepatan membaca dan menghafal hingga penguasaan ilmu yang mendukung pemahaman serta pengembangan kajian Al-Qur’an dan Tafsir,” pungkas Novalia. [Mohamad Deny Irawan]
























