Rangkasbitung, Gontornews — Auditorium Pondok Pesantren Modern (PPM) Darel Azhar, Rangkasbitung, menjadi saksi bergeloranya semangat kesatria santri. Sebanyak 1.098 pesilat santri, didampingi ratusan pelatih, ofisial, wasit juri se-Jabodetabek, berkumpul dalam Kejuaraan Pencak Silat yang digelar Jumat (23/10/2026) – Ahad (25/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Banten.
Bukan hanya gelanggang adu jurus dan ketangkasan, kejuaraan ini menjadi panggung kebangkitan pencak silat di lingkungan pesantren sekaligus penegasan bahwa santri memiliki peran strategis dalam menjaga warisan budaya dan membangun karakter bangsa.
Acara dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Banten, Dr H Dimyati Natakusumah. Sejumlah tokoh turut hadir, antara lain HM Shidiq dari Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) sekaligus Ketua Tapak Suci Pusat, tokoh Banten KH Embay Mulya Syarif, Ketua Umum IPSI Banten H Ajat Sudrajat, Letkol H Misnan MH, KH Upen Ruspendi, serta jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Lebak.
Tuan rumah, Dr KH Ikhwan Hadiyyin MM, Pimpinan PPM Darel Azhar sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Presidium Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Banten, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terselenggaranya perhelatan yang mempertemukan potensi pesilat dari berbagai pesantren tersebut.
Mulok Wajib Pesantren
Salah satu pesan penting dalam kegiatan ini datang dari Wakil Gubernur Banten. Ia mengharapkan pencak silat, yang memiliki akar sejarah dan budaya kuat di Banten, dapat dikembangkan menjadi muatan lokal (mulok) wajib di pondok pesantren se-Banten.
Gagasan tersebut menjadi relevan di tengah upaya memperkuat identitas budaya daerah, pendidikan karakter, dan prestasi olahraga. Pesantren dinilai memiliki potensi besar dalam melahirkan pesilat berprestasi karena pembinaan kedisiplinan, ketahanan mental, dan pembentukan akhlak merupakan bagian dari kehidupan santri sehari-hari.
Apalagi, Banten akan menjadi tuan rumah PON mendatang. Potensi atlet dari lingkungan pesantren perlu memperoleh perhatian dan pembinaan yang berkelanjutan agar mampu tampil di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.
Pesan yang mengemuka jelas: pesantren tidak cukup hanya menjadi pusat pendidikan ilmu agama, tetapi juga dapat menjadi persemaian atlet, penjaga tradisi, dan pencetak generasi berkarakter.
Eropa dan Papua
Tasyakuran dan kebanggaan tersendiri datang dari keluarga besar PPM Darel Azhar. Ustadzah Yeni Yulita MPd, guru sekaligus pelatih pencak silat di pesantren tersebut, dijadwalkan berangkat ke Austria pada bulan depan sebagai delegasi Indonesia untuk melatih pencak silat internasional.
Tidak hanya itu, lima santri dan ustadz PPM Darel Azhar ikut mengharumkan Provinsi Banten dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua.
“Para atlet pencak silat Darel Azhar menjadi juara umum pada ajang International Muslim Pencak Silat dalam rangka memperingati 100 tahun Gontor di Tangerang,” ujar Pimpinan PPM Darel Azhar, Dr KH Ikhwan Hadiyyin MM.
Kiprah ini menjadi gambaran bahwa pembinaan pencak silat di lingkungan pesantren bukan semata-mata aktivitas ekstrakurikuler. Dengan kesungguhan, kompetensi, dan pembinaan yang tepat, pesantren dapat melahirkan sumber daya manusia yang berkontribusi bagi perkembangan pencak silat hingga ke mancanegara.
“Dari gelanggang pesantren di Rangkasbitung, semangat pencak silat Indonesia berpeluang menjangkau panggung Eropa,” paparnya.
Santri Berprestasi dan Berjiwa Kesatria
Pada kesempatan itu, Pimpinan PPM Darel Azhar, Dr KH Ikhwan Hadiyyin MM, mengapresiasi para kiai yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Banten, Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG), seluruh panitia pelaksana, seluruh peserta, pelatih, ofisial, dan penyelenggara, serta pihak-pihak yang telah menyukseskan kejuaraan ini.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni Hari Santri Nasional, melainkan berkembang menjadi agenda tahunan yang memperkuat tradisi pencak silat di kalangan santri.
Lebih dari urusan medali dan kemenangan, menurut Ikhwan Hadiyyin, pencak silat mengajarkan keberanian yang terkendali, keteguhan disiplin, penghormatan kepada lawan, serta kerendahan hati dalam menerima hasil pertandingan.
“Di pesantren, ketangkasan fisik harus berjalan seiring dengan kematangan ruhani dan keluhuran akhlak. Kemenangan sejati bukan hanya ketika mampu menaklukkan lawan, melainkan ketika mampu mengendalikan diri,” kata alumni Pondok Modern Darussalam Gontor itu.
“Santri bukan hanya pewaris ilmu, tetapi juga penjaga budaya, pembangun prestasi, dan calon pemimpin bangsa.” []
























