Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Hari ini, kabar duka itu datang. KH Jamhari Abdul Jalal, Ketua Dewan Nazir Yayasan Darunnajah sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor, telah berpulang ke rahmatullah. Kehilangan beliau merupakan duka yang mendalam bagi dunia pendidikan Islam, khususnya bagi keluarga besar Darunnajah. Namun, di tengah kesedihan ini, ada satu memori yang terus hidup dan akan senantiasa menjadi pegangan bagi siapa pun yang pernah belajar dari beliau, termasuk saya.
Tahun 2013 silam, ketika kami baru saja bergabung sebagai pendidik di Pesantren Darunnajah, kami mendapat sebuah nasihat yang tidak akan pernah terlupakan. Nasihat itu disampaikan langsung oleh Kiai Jamhari di serambi rumahnya. Beliau berpesan dengan bahasa yang sangat sederhana: “Jika ingin berjuang di pesantren, kamu harus seperti seekor ayam yang mengerami telurnya”.
Sekilas, nasihat itu terasa biasa. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, apa yang disampaikan oleh beliau sesungguhnya merupakan sebuah filosofi pendidikan yang sangat mendasar yang sering kali dilupakan oleh lembaga-lembaga pendidikan hari ini.
Seekor ayam yang mengerami telur tidak akan sering meninggalkan sarangnya. Ia akan duduk diam, menjaga suhu, dan bertahan dalam waktu yang lama. Ia tidak terburu-buru. Ia tidak gelisah ketika telur-telur itu belum juga menetas. Ia hanya konsisten menjalankan tugasnya. Dari ketelatenan itulah, telur-telur tersebut berhasil menetas dan melahirkan generasi baru.
Metafora ini mengajarkan tentang satu nilai yang sangat mahal dalam dunia pendidikan: istiqamah.
Mendidik bukanlah pekerjaan instan. Ia bukan proyek jangka pendek yang bisa diselesaikan dalam satu dua tahun ajaran. Mendidik merupakan proses menetas kader. Jika seorang guru sering meninggalkan kelas, berganti-ganti komitmen, atau hanya hadir secara fisik tanpa kehadiran jiwa, maka proses pematangan karakter santri akan terganggu.
Dalam manajemen pendidikan Islam, nasihat ini menjadi kritik yang tajam terhadap budaya kerja yang serba cepat dan pragmatis.
Saat ini, banyak lembaga pendidikan yang terlalu berorientasi pada hasil yang terlihat, seperti angka kelulusan atau akreditasi, namun melupakan proses pendampingan yang memakan waktu.
Padahal, kualitas lulusan sebuah pesantren sangat ditentukan oleh seberapa lama dan seberapa dalam seorang pendidik mengerami murid-muridnya.
Kiai Jamhari bukanlah orang yang hanya pandai berbicara. Beliau teladan dari apa yang beliau ajarkan. Sepanjang hidupnya, beliau mendedikasikan diri untuk merawat pendidikan Islam. Sebagai pemimpin pesantren yang mengelola aset wakaf ratusan hektare, beliau tidak memilih hidup bermewah-mewahan. Sikap rendah hati (tawadhu’) ini menjadi fondasi kepemimpinan beliau. Beliau lebih memilih bekerja di balik layar, memastikan bahwa sistem berjalan, amanah wakaf terjaga, dan para santri mendapatkan hak pendidikannya secara layak.
Di bawah kepemimpinan beliau, Darunnajah 2 Cipining tidak sekadar membangun gedung-gedung baru. Beliau betul-betul mengerami calon-calon pemimpin masa depan. Beliau merumuskan kiat sukses bermasyarakat: belajar kepada yang lebih tua, berteman kepada yang sebaya, dan mengayomi yang lebih muda. Ini wujud nyata dari sebuah proses inkubasi nilai yang berkelanjutan. Beliau juga memiliki visi besar agar Darunnajah naik kelas menjadi universitas, sebuah mimpi yang menandakan bahwa beliau tidak pernah berhenti berpikir tentang masa depan pesantren.
Jika seekor ayam meninggalkan sarangnya terlalu lama, telur-telur itu akan menjadi dingin dan gagal menetas. Begitu pula dengan lembaga pendidikan. Jika para pendidiknya terlalu sibuk dengan urusan di luar, mengejar popularitas, atau mudah tergoda untuk berpindah tempat sebelum amanahnya tuntas, maka generasi penerus yang seharusnya lahir justru akan kehilangan arah.
Manajemen kaderisasi yang baik selalu menuntut kesabaran. Pesantren membutuhkan guru-guru yang bersedia menetap, hadir setiap hari, mendengarkan keluh kesah santri, dan membimbing mereka dengan penuh kelembutan. Proses ini seringkali tidak terlihat glamor. Ia terjadi di ruang-ruang asrama yang sepi, di perpustakaan, atau saat jam tambahan belajar malam. Namun di sanalah sesungguhnya masa depan pesantren sedang ditempa.
Nasihat Kiai Jamhari pada tahun 2013 itu kini terasa semakin relevan. Hari ini, telur-telur yang beliau erami telah menetas menjadi ribuan kader yang tersebar di berbagai bidang kehidupan. Para guru, alumni, dan santri yang beliau bina kini menjadi saksi hidup dari ketelatenan beliau. Beliau telah menuntaskan tugas pengeramannya dengan sangat baik.
Mendidik tentang bagaimana kita bertahan dalam kebaikan, menjaga amanah, dan tidak berhenti mendampingi hingga anak-anak didik kita siap mandiri. Ketika para pendidik sudah menuntaskan proses pengeraman dengan penuh keikhlasan, hasilnya pun tidak akan pernah mengecewakan. Kader-kader terbaik akan lahir, membawa nilai-nilai yang telah ditanamkan ke tengah masyarakat.
Selamat jalan, Kiai Jamhari. Terima kasih atas nasihat sederhana namun sangat mendalam itu. Terima kasih atas keteladanan, keikhlasan, dan perjuangan yang telah Kiai tanamkan di bumi Darunnajah. Nasihat singkat Kiai bukan sekadar teori, melainkan mata air di tengah padang pengabdian. Sebuah pengingat bahwa perjuangan di pesantren menuntut ketenangan hati dan kesetiaan waktu.
Peradaban besar tidak dibangun oleh orang-orang yang terburu-buru, melainkan oleh mereka yang bersedia duduk diam, merawat, dan mengerami proses dengan penuh kesabaran. Kiai merupakan salah satu dari orang-orang besar itu. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa Kiai, menerima seluruh amal jariyah, melapangkan kubur, dan menempatkan Kiai di tempat terbaik di sisi-Nya. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn. []
























