Yogyakarta, Gontornews — Perkumpulan Program Studi Pendidikan Agama Islam Indonesia (PPPAI) menyelenggarakan Workshop Nasional Penguatan Body of Knowledge (BoK) PAI pada Selasa (27/10/2026).
Kepada Gontornews.com Dr Syarifah MPdI, Ketua Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Program Pascasarjana UNIDA Gontor menginformasikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 49 peserta yang terdiri atas Ketua Program Studi (Kaprodi) dan Sekretaris Program Studi (Sekprodi) PAI, Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI), serta Doktor Pendidikan Agama Islam (DPAI) dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Bertempat di Hotel Platinum Yogyakarta, workshop nasional ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat fondasi keilmuan Pendidikan Agama Islam melalui pengembangan Body of Knowledge (BoK) yang terstruktur, sistematis, dan relevan dengan perkembangan pendidikan tinggi.
Kegiatan ini juga bertujuan memberikan penguatan pemahaman kepada para pengelola program studi mengenai penyusunan dan implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Selain itu, acara ini pun diperuntukkan guna mempersiapkan strategi peningkatan mutu program studi dalam menghadapi tuntutan akreditasi unggul Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) dan Lembaga Akreditasi Mandiri bidang Agama (LAMGAMA).
Penguatan BoK menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan Program Studi PAI karena berkaitan langsung dengan identitas keilmuan, struktur kurikulum, profil lulusan, serta capaian pembelajaran yang hendak diwujudkan. Melalui kegiatan ini, para pengelola program studi diharapkan mampu membangun keselarasan antara landasan keilmuan PAI, kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, dan standar mutu pendidikan tinggi.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah akademisi sekaligus asesor sebagai narasumber, di antaranya Prof Dr Hj Fihris MAg dari UIN Walisongo Semarang, Prof Dr Eva Latipah MSi dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Prof Dr Suyadi MPdI dari Universitas Ahmad Dahlan. Para narasumber memberikan penguatan materi dari perspektif pengembangan keilmuan, kurikulum OBE, penjaminan mutu, hingga strategi pencapaian akreditasi unggul.
Dalam pemaparannya, Prof Dr Hj Fihris MAg menguraikan pentingnya pengembangan kurikulum yang memperhatikan relevansi penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta keterlacakan bukti dalam kerangka mutu dan kekhasan misi perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa relevansi akademik harus mampu membuktikan kontribusi nyata yang terukur, mulai dari perencanaan hingga dampak yang dihasilkan.
“Relevansi bukan hanya tentang apa yang diteliti dan dilakukan, tetapi untuk siapa, mengapa penting, apa yang berubah, dan bagaimana perubahannya dibuktikan,” tegas Prof Fihris.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) menuntut keselarasan yang utuh antara komponen input, proses, luaran, hingga dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
Sementara itu, Prof Eva memberikan penjelasan mengenai urgensi penguatan BoK sebagai fondasi identitas akademik Prodi Pendidikan Agama Islam. Menurutnya, kejelasan struktur keilmuan menjadi pijakan utama dalam menentukan arah pengembangan kurikulum, profil lulusan, dan kompetensi yang harus dimiliki oleh mahasiswa PAI.
“Penguatan Body of Knowledge merupakan langkah mendasar untuk memperjelas identitas keilmuan Pendidikan Agama Islam. Kurikulum PAI perlu dibangun berdasarkan struktur keilmuan yang jelas agar memiliki arah pengembangan dan karakter akademik yang kuat,” ujar Prof Eva Latipah.
Selain itu, Prof Eva juga memberikan penekanan pada strategi pencapaian akreditasi unggul melalui *Sembilan Syarat Unggul LAMGAMA 1.0*. Kesembilan indikator tersebut mencakup dampak program studi di dunia kerja (Dudika), perangkat Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), proses Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP), efektivitas SPMI di tingkat program studi, dokumen kurikulum, rasio DPR-mahasiswa, persentase jabatan akademik dosen program studi, efektivitas kinerja program studi, serta tren daya tarik program studi dan keterserapan lulusan.
“Pencapaian akreditasi unggul harus ditopang oleh sembilan syarat utama LAMGAMA 1.0 yang berfokus pada mutu, relevansi, dan dampak nyata. Program studi harus memastikan seluruh siklus penjaminan mutu berjalan efektif agar memberikan dampak positif bagi mahasiswa maupun dunia kerja,” tambah Prof Eva Latipah.
Adapun Prof Dr Suyadi menyoroti pentingnya penguatan identitas dan kekhasan kurikulum di masing-masing perguruan tinggi. Menurutnya, di samping standar umum yang berlaku, setiap program studi perlu merumuskan dan mengintegrasikan kekhasan institusinya ke dalam struktur kurikulum.
“Selain integrasi ilmu dan moderasi beragama yang menjadi pilar penting, perguruan tinggi juga wajib merawat satu kekhasan utama lainnya yang melekat pada identitas institusi, yakni penyediaan dan pemanfaatan sarana prasarana keagamaan yang terintegrasi secara akademik,” jelas Prof Suyadi.
Melalui workshop nasional ini, para peserta memperoleh penguatan perspektif mengenai pentingnya membangun identitas keilmuan PAI yang kokoh, mengembangkan kurikulum yang berorientasi pada capaian pembelajaran, serta meningkatkan tata kelola dan budaya mutu program studi. Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi dan pertukaran pengalaman antar-pengelola program studi PAI dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Penyelenggaraan workshop ini diharapkan tidak berhenti pada penguatan pemahaman konseptual, tetapi juga dapat ditindaklanjuti melalui evaluasi dan pengembangan kurikulum di masing-masing program studi. Dengan demikian, penguatan Body of Knowledge dan implementasi OBE dapat menjadi landasan dalam meningkatkan relevansi pendidikan, kualitas lulusan, serta daya saing Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Melalui sinergi dan kolaborasi antarprogram studi yang tergabung dalam PPPAI, diharapkan pengembangan pendidikan tinggi PAI di Indonesia semakin terarah, adaptif, dan berdaya saing, sekaligus mampu memenuhi standar mutu pendidikan tinggi menuju akreditasi unggul. []
























